Saking Fanatiknya Sampai Salah Nyoblos Paslon - Hamba Allah

10/25/2018

Saking Fanatiknya Sampai Salah Nyoblos Paslon

Menjelang pilkada dan pemilu rakyat berpesta demokrasi mendukung paslonnya masing-masing. Sebagai rakyat Indonesia yang bijaksana kita wajib memilih calon pemimpin. Diperbolehkan mendukung namun tidak boleh terlalu fanatik apalagi sampai membenarkan apa yang salah dan menyalahkan apa yang benar.

Saking Fanatiknya Sampai Salah Nyoblos Paslon

Perbedaan tidak harus jadi perpecahan. Namun, fakta di lapangan perbedaan kian menjadi dalih perpecahan. Dalam hal ini ada sebuah kisah lucu dampak dari terlalu fanatiknya pendukung kepada paslon kebanggaannya. Kisah ini diambil dari NU Online dan berikut kisahnya.

Dalam kondisi masih pagi buta, Deden dengan semangat membara pergi bergegas menuju tempat pemungutan suara (TPS) pemilihan gubernur dan wakil gubernur di sebuah provinsi untuk memberikan hak suaranya atau nyoblos.

Sedari masa-masa kampanye, Deden memang salah satu simpatisan partai tertentu. Saking fanatiknya, ia kerap mengunggulkan pasangan calon (paslon) yang didukungnya dan membenci salah satu paslon. Kebenciannya itu sering dipostingnya di akun media sosial miliknya.

Tiba di lokasi TPS yang tidak jauh dari tempat tinggalnya, Deden diikuti sang istri menunggu beberapa saat karena TPS belum dibuka. Setelah dibuka, tentu saja ia mendapat giliran paling awal karena sedari pagi buta sudah tiba di TPS.

Kertas suara diberikan panitia pemungutan suara kepada Deden dan istri. Mereka berdua membuka dan melebarkan kertas suara yang berisi daftar paslon kepada para saksi di TPS untuk memastikan kertas suara masih utuh.

Deden dan istri segera menuju bilik suara untuk mencoblos paslon pilihannya. Ternyata, rasa benci Deden terhadap paslon tertentu yang kerap diungkapkannya di media sosial tidak hilang ketika ia masuk ke bilik suara.

Walhasil, paku yang dipegangnya untuk memilih paslon yang ia dukung justru digunakan untuk mencoblos dengan rasa geram terhadap paslon yang ia tidak sukai untuk menunjukkan kebenciannya.

“Syukurlah, Mamah udah nyoblos calon yang kita dukung Pah,” ucap sang istri.

“Loh, berarti saya tadi salah nyoblos dong,” ujar Deden dalam hati sambil tersenyum kecut ke istrinya.

Ternyata, pemilu kali ini merupakan pengalaman pertama Deden yang tiap masa pemilu atau pilkada memilih cuek dan tidak berpartisipasi. (Ahmad)

Begitulah kisah si Deden yang salah coblos karena kebenciannya yang telah membabibuta. Semoga kisah ini menjadi pelajaran bagi kita semua, bahwa kebencian malah justru bisa membuat kita salah pilih. Demikian semoga bermanfaat.

Comments

Tnggalkan komentar anda
EmoticonEmoticon