Cara Mudah Supaya Guru disayangi Siswa

Saudaraku hamba-Allah yang berbahagia, Guru merupakan orang tua siswa ketika berada di sekolah. Namun tidak jarang guru belum bisa memahami posisinya sebagai orang tua bagi mereka. Sehingga tidak jarang pula mereka para siswa belum bisa memahami bahwa orang tua mereka ketika berada di sekolah adalah para guru. Akibatnya siswa lebih enggan untuk mematuhi perintah guru, suka membantah, tidak memperhatikan pelajaran sama sekali. Guru terasa sebagai orang lain yang tidak mereka kenal, ditakuti, bahkan dijauhi.

Padahal ketika guru dekat dengan siswa, saat itulah kesempatan untuk memahami karakteristik para siswa. Dengan memahami karakteristik siswa maka guru lebih mudah mencari dan memberi cara-cara yang terbaik untuk mereka. Saat guru mampu memahami karakteristik siswa dan memberi yang terbaik untuk siswa, maka saat itu pula para siswa akan menyangi guru.

Dengan MENGHINDARI hal-hal berikut maka guru akan lebih dicintai dan disayangi siswa;

1. Memanggil dengan Nama yang tidak mereka disukai

Semua orang pasti suka jika dihormati orang lain, dan salah satu bentuk penghormatan tersebut adalah memanggil dengan sebutan yang baik. Kebayang kan jika kita dipanggil dengan sebutan yang tidak kita sukai? Begitu juga siswa, mereka juga akan sangat senang jika dipanggil dengan sebutan yang mereka sukai. Misalnya dengan menambah kata ADIK, MBAK, atau MAS sebelum menyebut nama mereka. Alangkah senang dan bahagianya mereka.

Namun sebaliknya, jika guru memanggil nama siswa dengan sebutan yang tidak baik, tidak mereka sukai. Maka akan menimbulkan kebencian mereka terhadap guru. Meskipun itu hanya dalam bentuk gurauan atau guyonan, terlebih ketika sebutan itu diucapkan di dalam kelas mereka. Mereka akan diam namun hal ini pasti sangat menyakiti hatinya.

2. Tidak Menilai Hasil Kerja dan Tugas Siswa

Ketika kita bekerja tentu ingin mengetahui hasilnya. Semakin berat tugas kerja kita maka semakin besar keinginan kita untuk mengetahui hasilnya. Begitu pula siswa, ketika guru memberikan sebuah tugas maka harapan mereka adalah mengetahui hasil dari tugas yang mereka kerjakan. Semakin banyak tugas yang diberikan kepada siswa maka semakin besar mereka ingin mengetahui hasilnya.
Tetapi tidak jarang ada guru yang menggantungkan harapan dan penantian siswa untuk melihat hasil penilaian kerja mereka. Setelah ditunggu beberapa hari, minggu, bahkan bulan tak ada kabar guru memberikan hasilnya. Tambah kecewa setelah ditunggu beberapa bulan ternyata siswa menemukan hasil kerjanya belum dinilai oleh guru. Ohhhh.. betapa kecewanya mereka.

Apapun tugas yang diberikan. Sekecil apapun itu, setidaknya bisa dibahas bersama-sama sehingga siswa minimal tau dan bisa menilai sendiri hasil pekerjaan mereka. Hal ini sebagai penghargaan atas kerja keras mereka.

Jika hasil kerja siswa tidak dinilai berkali-kali, akibatnya siswa enggan untuk mengerjakan tugas yang guru berikan. Mereka akan malas dan merasa bahwa tugas yang diberikan tidak ada gunanya sama sekali bagi mereka. Bisa jadi mereka tidak akan lagi percaya kepada guru.

3. Jarang Tersenyum

Terkadang guru ingin terlihat berwibawa maka dia jarang tersenyum. Ada juga yang beranggapan senyum kepada siswa membuat mereka tidak menghormati guru, karena dianggap sebagai teman. Ada pula guru yang berpikir gengsi jika tersenyum kepada siswa. Padahal dengan tersenyum maka akan mendatangkan berjuta-juta manfaat kepada kita semua.

4. Berpakaian tidak Rapi

Guru adalah figure teladan. Bukan hanya ilmunya saja, tetapi hampir seluruh aspek kehidupan guru mejadi kaca prilaku siswa. Termasuk cara berpakaian guru. Bagaimana siswanya mau rapi jika gurunya saja tidak berpakaian rapi.

5. Suka menghukum Fisik

Kadang ada guru yang lepas kontrol ketika menghadapi siswa yang tidak mentaati peraturan sekolah. Guru beranggapan bahwa hukuman fisik adalah solusinya. Padahal cara ini tidak efektif untuk perbaikan siswa. Dilain sisi akan menimbulkan kebencian pada guru.
Ganti hukuman fisik dengan hukuman yang lebih mendidik. Misalnya dengan membaca al-Qur’an 1 juz, menulis istighfar 1.000 kali, meminta tanda tangan kepada seluruh guru supaya setiap guru memberi nasihat kepada siswa sebelum memberi tanda tangan. Dengan begitu maka siswa lebih terdidik.

6. Meremehkan siswa dan pilih-pilih siswa

Pilih-pilih siswa atau dengan kata lain pilih kasih adalah tindakan yang sangat dibenci siswa. Baik itu dengan alasan karena sisiswa lebih pintar, lebih kaya, anak pengurus yayasan, anak teman guru, atau apapun alasannya hal ini tidak disukai siswa. Jadi miliki hati semua siswa dengan memperhatikan mereka dengan prosentase yang sama.

7. Sering mengumpat

Apakah ada guru yang mengumpat? Ada juga lho, dan guru harus hati-hati dengan kata-kata yang diucapkan. Sangat tidak pantas jika ada guru mengumpat siswa karena kecerobohan atau siswa tidak menguasai mata pelajaran. Jika guru melakukan hal ini, maka siap-siap siswa dibenci oleh siswa.

8. Menyentuh Tubuh siswa

Satu hal ini rawan bagi guru-guru laki-laki. Terkadang guru berfikir karena mereka adalah siswanya, maka sebagai bentuk kasih sayang kita melakukan hal-hal yang kurang etis. Misalkan memegang, menyentuh, atau memeluk siswa. Jika siswa sudah mulai memasuki masa pubertas atau bahkan di atasnya, tentunya guru harus menghormati dia dengan menjaga jarak.

Jika Guru melakukan hal seperti ini, maka siap-siap saja akan dibenci bahkan akan terjerat tuntutan pengadilan. Jadi mari lebih hati-hati menjaga jarak antara guru dan siswa yang berbeda gender. Kasih sayang guru kepada siswa tidak harus disampaikan dengan cara seperti di atas bukan?

9. Tidak Pernah Mendo’akan

Jarang mendo’akan atau bahkan tidak pernah mendo’akan siswa merupakan sikap yang kurang terpuji bagi guru. Guru-guru yang sering mendokan muridnya akan terpancar dari kegigihanya dalam mengajar dan mendidik. Artinya guru yang jarang mendoakan siswanya akan tampak dari etos kerjanya yang bermalas-malasan dan tidak bersemangat.

Guru adalah orang tua di sekolah, yang pasti Allah akan mendengarkan do’a orang tua untuk anaknya. Jalan terakhir dan JALAN UTAMA agar siswa tetap cinta dan menyayangi guru adalah selalu mendoakan mereka setiap hari.

Yang memegang hati mereka (para siswa) adalah Allah. Kenapa sulit-sulit, kita (para guru) minta saja kepada-Nya agar mereka mejadi murid yang baik. Mudah bukan? Gampang kan? :)

You Might Also Like:

Disqus Comments