Aku Kayuh Sepadaku Untuk Ibadah Hajiku

Salah satu dari rukun Islam yang kel lima adalah menunaikan ibadah Haji. Menunaikan Ibadah haji merupakan penyempurna rukun Islam. Hukum menunaikan ibadah haji adalah wajib bagi setiap Muslim yang mampu; mampu dalam kondisi fisik dan mental seperti kesehatan tubuh dan jiwa, mampu dalam kondisi finansial seperti memiliki keuangan yang cukup untuk pergi ketanah suci Makkah, dan mampu dalam kondisi berkendara seperti mampu melaksanakan perjalanan ke tanah suci Makkah. Beribadah ke tanah suci Makkah merupakan salah satu ibadah dambaan bagi umat Islam di seluruh Dunia sebab dengan menunaikannya mampu membuat umat Islam lebih dekat dengan Allah SWT. Sehingga banyak cara yang dilakukan dan berbagai macam usaha yang dilakukan supaya bisa menunaikannya.

Mungkin sudah biasa jika kita mendengar seseorang atau beberapa kelompok melakukan perjalanan dengan pesawat atau kapal untuk menunaikan ibadah haji. Tetapi bagaimana kiranya jika perjalanan tersebut dilakukan hanya dengan berkendara sepedah saja? Terlebih sepeda tersebut bukan sepeda motor. Dan inilah yang dilakukan oleh seorang Muslim asal Tiongkok yang bernama Mohammad.

Dikutip dari laman aboutislam.net, bahwa Mohammad telah mengayuh sepeda tuanya sepanjang perjalanan 8.150 km dari tempat kelahirannya dengan penuh semangat dan penuh perjuangan supaya ia bisa menunaikan ibadah haji. Sebuah usaha yang tentunya sangat mengharukan, mengingat perjalanan tersebut sangatlah penjang dan penuh dengan resiko. Tindakan tersebiut ia lakukan sendiri selama berminggu-minggu yang sudah tentu sangat melelahkan baginya. Tetapi ia tidak memperdulikan seberapa besar resiko dan kelelahan yang ia alami dan diketahui meskipun pemerintah Tiongkok secara terang-terangan tidak mendukung keberadaan komunitas Muslim di Negaranya, ia (Mohammad) tetap berusaha keras untuk tetap menunaikan ibadah haji dengan caranya yaitu mengayuh sepeda. Lalu apa kira-kira sebabnya ia sampai melakukan tindakan tersebut? Apakah karena pemerintah di Negaranya memang tidak mendukungnya? Ataukah memang sebegitu kuat niatnya untuk memnunaikan ibadah haji? Walaupun tidak diketahui secara pasti apa dan mengapa ia menempuh perjalanan ibadah haji dengan mengayuh sepeda, namun tindakan seperti patut diapresisasi dan bisa menjadi motivasi bagi kita untuk bekerja keras supaya bisa menunaikan ibadah haji.

Setelah ia (Mohammad) tiba di kota Kaif, kedatangannya langsung disambut oleh para komunitas penggemar sepeda. Komunitas inilah yang menemaninya dan mengantarkannya ke tanah suci Makkah. Komunitas inilah yang membuatnya semakin semangat dan antusias, rasa lelah sebab mengayuh sepada sampai ribuan kilometer telah hilang, terasa seperti memiliki keluarga baru. Hal ini juga semakin memantapkan hatinya untuk menunaikan ibadah haji.

Kini Mohammad begitu semangat untuk segera sampai di kota Makkah dan segera menjalankan ibadah hajinya. Ia bahkan tidak merasa bahwa ia hanya membawa bekal dan persiapan seadanya, perjalanan panjang yang ia tempuh juga tidak terasa. Baginya ini adalah hal yang sangat menantang yang telah dilaluinya selama ini, ia bangga dan bahagia akan apa yang telah ia lakukan. Perjalanan panjang yang selama ini ia lakukan merupakan ibadah panjang yang nantinya akan semakin mendekatkan dirinya kepada sang Pencipta.

Kisah dengan judul Aku Kayuh Sepadaku Untuk Ibadah Hajiku semoga menjadi sebuah pelajaran yang berharga dan penting bagi kita semua. Haji memang panggilan Allah, tetapi kita tidak boleh beranggapan “jika memang Allah telah memanggil maka kita pasti bisa menunaikannya”. Terlebih jika kita hanya pasrah tanpa usaha sedikitpun untuk menunaikan ibadah Haji. Memang segala sestuatu merupakan takdir Allah, tetapi takdir yang ditetapkan Allah pasti ada sebab ataupun alasan, yang mana dengan sebab ataupun alasan tersebut mau tidak mau kita harus menerimanya (menerima takdir Allah).
— Unknow

Salah satu contohnya adalah kisah Aku Kayuh Sepadaku Untuk Ibadah Hajiku, dengan usaha keras dan penuh tantangan ia lakukan demi mendapatkan takdirnya yaitu menunaikan ibadah haji. Allah memberikan takdir kepadanya (Mohammad) atas apa yang telah ia lakukan (usaha kerasnya). Jadi apakah kita hanya akan pasrah menunggu panggilan Allah untuk menunaikan ibadah Haji?

You Might Also Like:

Disqus Comments