Komunitas Muslin Timur Tengah dan Konflik Zionisme

Zionis telah berusaha membentuk mimpinya dengan mendirikan negara di tanah Palestina, yang kemudian dinamakan dengan Israel. Hingga kini mimpi itu masih menjadi mimpi. Klaim terhadap negara itu tidak menghasilkan sesuatu apapun kecuali kekhawatiran penduduk yang didatangkan kesana, keamanan yang terus mengancam serta pengakuan dunia internasional yang masih tidak sepakat untuk itu. Sehingga mimpi Zionis masih lagi menjadi kenangan suram bersama mitos holokus. Konflik diantara Zionis juga merupakan sebab dominan dari semua kemelut yang menimpa penduduk Palestina.

A. Komunitas Muslin Timur Tengah dan Konflik Zionisme

Kalau dilihat memang keberadaan Zionis di tanah penjajahan adalah satu kekautan yang besar, tapi kalau diperhatikan dengan sungguh sungguh maka yang ada adalah bayangan yang terbentuk dari padanya. Proklamasi sepihak dilakukan oleh Zionis tahun 1948 yang dilanjutkan dengan serangan negara negara Arab. Beberapa negara Arab itu jatuh dan sebahagian dari pada tanahnya dirampas, begitu juga tanah Palestina, dijajah dan penduduknya dibunuh. Iinilah permulan eksodus besar orang Palestina dan pemerintahan berdarah Zionis berdiri diatas tanah jajahan Palestina.

Sesudah memaksa penduduk Palestina untuk menyerahkan tanahnya, maka Zionis berusaha menipu semua penduduk dunia dengan mimpinya. Penipuan yang dilakukan bukan saja pada muslimin atau selain agamanya tapi juga kepada masyarakat yang beragama Yahudi. Dengan terjadinya eksodus besar besaran dari Ethiopia, India, Iran, Rumania dan beberapa negara Eropa lainya, mulailah Zionis mencoba merealisasikan mimpinya. Tapi apa yang terjadi adalah sebaliknya. mereka tetap saja menjadi orang kelas dua atau bahkan kelas tiga.

B. Komunitas Muslim Afrika

a. Mauritania

Mauritania merupakan negara yang memperlihatkan integrasi yang paling kuat dalam hal identitas etnis, nasional dan identitas negara. Penduduk negara ini seluruhnya Muslim dan mengidentifikasikan diri sebagai negara Islam. Kehadiran Perancis berpengaruh kuat terhadap system politik Mauritania. Perancis memandang suku hassani sebagai elite politik, memberikan subsidi kepada mereka, melembagakan otoritas mereka sebagai penghubung antara pemerintah Perancis dan masyarakat umum.

Menjelang kemerdekaan Mauritania, muncul banyak partai di kalangan masyarakat Mauritania. Terbentuknya berbagai partai di Mauritania memperlihatkan adanya perselisihan di dalam masyarakat Mauritania antara elite tradisional dan politisi modern. Mauritania merdeka pada tahun 1958 sebagai Republik Islam Mauritania. Perpecahan masyarakat traisional secara pelan-pelan dapat diatasi melalui pembentukan sebuah komunitas yang lebih menyatu di bawah rezim tunggal yang menggunakan sebuah bahasa metropolitan dan menjanjikan identitas Islam.

b. Senegal

Senegal pada dasarnya merupakan rezim non Muslim sekuler yang memerintah sebagian besar penduduk Muslim. Meskipun rezim ini dipengaruhi oleh kultur politik Eropa dan dijalankan oleh elite non Muslim, sebagian penduduknya terdidik dalam thariqat sufi. Senegal dijalankan melalui kolaborasi antar elite negara dan elite sufi. Senegal mewakili sebuah upaya untuk mendaur ulang pola hubungan suportif klasik antara negara Muslim dan organisasi komunal Muslim.

Pemerintahan Perancis turut menyokong penyebaran Islam. Dengan mengambil sikap pragmatis terhadap kaum Muslim dan memandang mereka sebagai kelompok yang berperadaban tinggi, berpola hidup produktif dan cakap di bidang adminitrasi. Perancis memanfaatkan warga Muslim sebagai juru tulis, dan menjadikan kepala-kepala kampung sebaga perantara serta mengijinkan menjalankan hukum Islam. Di bawah pemerintah Perancis para ulama mengembara dari satu tempat ke tempat lain, guna menyampaikan pengajaran, mendirikan sekolah dan membentuk perkumpulan Muslim. Meskipun demikian Perancis mencemaskan Muslim sebagai lawan politik mereka. Untuk itu Perancis berusaha menjaga agar kekuatan Muslim tidak terorganisir dan tetap dibawah kontrol Perancis.

Perancis membuat beberapa kebijakan nyang mengharuskan guru sekolah mendapatkan surat izin dan memilikii kecakapan dalam berbahasa Perancis, melarang peredaran surat kabar yang berbahasa Arab, islam dilarang mengumpulkan zakat. Semua hal diatas dilakukan untuk mencegah kekuatan komunitas Islam bersatu menjadi lebih besar.

Namun semua kebijakan tidak diterapkan secara konsisten, karena setelah perang dunia I Perancis beralih kepada kebijakan yang memberikan dukungan secara selektif terhdap tokoh-tokoh Muslim. Sebagai imbal baliknya, para sufi mendukung upaya Perancis dalam menciptakan situasi yang tenang, mengumpulkan kesatuan-kesatuan tentara, mengumpulkan pajak serta meningkatkan produksi pertanian. Elite muslim menyesuaikan diri terhadap realitas pemerintahan Perancis dengan menghentikan militansi politik yang digantikan dengan kegiatan peribadatan, pendidikan, usaha perekonomian dan membentuk struktur thariqat Muslim.

Ada beberapa thariqat di Senegal. Sebagian besar adalah Thariqat Muridiyah. Dalam thariqat ini amalan Islam kurang dipentingkan. Meskipun mereka puasa Ramadhan, tetapi shalat wajib dan ibadah puasa yang lainnya kurang dperhatikan. Thariqat Fall (cabang muridiyah) secara mencolok bersifat non-ortodoks dan non-kompromis. Keturunan Ibra fall tidak melaksanakan shalat atau ritual islam lainny, tetapi mereka meyakini melalui sikap kepasrahan dan bekerja serta melalui sikap lemah lembut dan praktik magis mereka dapat meraih berkah agama.

Pada saat yang sama ketika masyarakat Senegal diorganisir oleh thariqat sufi, kalangan professional dan elite perkotaan non-Muslim mengambil alih perjuangan kemerdekaan. Senegal memiliki sejarah elite politik yang berakar sejaj abad 19. Elite Senegal terlibat dalam pemerintahan Perancis, bekerja pada perusahaan Eropa dan akhirnya mewarisi kekuasaan negara. Dengan tercapainya kemerdekaan Senegal pada tahun 1960, Senegal diperintah oleh elite non-Muslim yang berpendidikan Perancis yang dipimin oleh Leopold Senghor dan partai Union Progressiste Senegalaise. Namun Senegal merupakan negara yang masyarakatnya menyatu karena bahasa Wolof digunakan oleh 80% penduduk dan dikarenakan sebagian besar warga Senegal adalah Muslim.


C. Komunitas Muslim Eropa

Komunitas Muslim Eropa tengah membentuk karakter yang berbeda dengan negara-negara asal mereka di Asia Barat, Tengah, Selatan, Tenggara, dan Afrika Utara. Islam di Eropa berasimilasi dengan ide-ide Barat mengenai sekularisasi dan demokrasi. Dua gagasan itu sampai saat ini berbenturan dengan penafsiran tradisional sebagian Muslim.

Benturan pertama, Islam merupakan agama yang menganut humanisme kolektif, sehingga doktrin-doktrinnya merupakan moral imperative sekaligus hukum positif yang mengikat komunitas Muslim. Benturan kedua, demokrasi yang dipercaya Barat sebagai mekanisme politik terbaik pada kenyataannya tidak pernah menjadi tradisi Muslim.

Peradaban Islam yang baru lahir pada abad ke-7 berkembang merambah wilayah-wilayah kekusaan Romawi yang masih tersisa di Kekaisaran Timur seperti Syiria, dan Mesir. Pada saat inilah Islam bersentuhan dengan Hellenisme Yunani melalui peradaban Romawi. Akibat pengaruh Yunani, peradaban Islam menghasilkan karya-karya ilmu pengetahuan dan seni dengan gemilang, sedangkan Eropa memasuki abad kegelapan (dark ages). Peninggalan peradaban Hellenisme yang tinggi di Eropa nyaris lenyap dari kepustakaan Eropa akibat dominasi gereja terhadap masalah sosial-politik.

Namun, pada abad ke-7 inilah peradaban Barat mulai bertumbuh, terutama ketika Perang Salib mempertemukan Barat dengan Islam. Barat yang menyadari ketertinggalan mereka mempelajari Hellenisme Yunani melalui peradaban Islam Spanyol. Persentuhan itu merupakan titik awal kebangkitan Barat, sehingga muncullah renaisans, atau kelahiran kembali peradaban Yunani yang sempat “hilang.”

Pada abad ke-17 dan 18, sains dan teknologi yang berkembang pesat mempertangguh kekuatan militer Barat. Kemampuan Barat mengembangkan sains berimplikasi bagi penemuan-penemuan baru di bidang persenjataan, sedangkan kehancuran Kekhalifahan Muslim-Spanyol membuat pertumbuhan peradaban Islam mandek. Satu-satunya Kekhalifahan Muslim yang menonjol pada mulai abad ke-13 sampai ke-16 adalah Turki Usmani. Namun, wilayah kekuasaannya akhirnya lepas bagian demi bagian ke tangan Barat, karena ekspansi mereka tak didukung dengan semangat memajukan ilmu pengetahuan.

Pada awal abad ke-20, praktis sebagian besar negara-negara Muslim menjadi koloni negara-negara Barat. Maka, peradaban Barat pun mendominasi seluruh kehidupan komunitas Muslim sedunia, mulai pakaian, kalender, bahasa, seni sampai ilmu pengetahuan dan teknologi.

Ketidakberdayaan atas supremasi Barat, dan keberpihakan Barat terhadap lawan-lawan Muslim melahirkan fundamentalisme Islam. Fundamentalisme Islam yang awalnya bertujuan menyatukan seluruh Muslim dunia dalam satu pemerintahan di bawah hukum Tuhan berkembang menjadi perlawanan radikal terhadap semua kekuatan asing yang dianggap mengancam eksistensi Islam.

Di pihak lain, Muslim Eropa modern yang sebagian besar adalah imigran, justru menemukan bahwa Barat adalah surga, tidak hanya dalam mencari nafkah tetapi juga dalam menjalankan ibadah, sehingga konsep pembagian daerah Islam (darul Islam) dan daerah perang (darul harb), menjadi tidak relevan lagi, karena justru mereka menikmati kebebasan beragama di negara Nonmuslim.

Komunitas Muslim Eropa juga sadar bahwa mereka tidak mungkin membangun ghetto-
ghetto, tapi mereka harus menjadi seorang Muslim sekaligus seorang Eropa pada saat yang bersamaan. Mereka lebih suka berpikir mengenai keterwakilan politik, atau membicarakan persamaan hak alih-alih mengkonfrontasikan Islam dengan Barat.

Stereotip yang ada pada sebagian besar benak Muslim negara mereka adalah Barat bersikap angkuh, licik, sadis, berusaha menghancurkan Islam dari pelbagai macam arah ketika mereka lengah. Namun, Muslim Eropa berhasil menemukan bukti bahwa persoalannya adalah kesalahpahaman antara dua budaya yang berbeda dan mereka mampu menjembatani perbedaan itu. Sebab, mereka tidak saja memahami Islam, tapi juga Barat. Dengan demikian, mereka dapat menjelaskan Islam kepada Barat dengan perspektif Barat. Di pihak lain mereka dapat berbicara mengenai Barat kepada Muslim dunia dengan perspektif Islam.

Dengan demikian, keberadaan komunitas Muslim Eropa pada masa mendatang akan menguntungkan dua peradaban mayor dunia: Barat dan Islam. Kegagalan memahami satu sama lain berpotensi dipecahkan oleh diaspora komunitas Muslim yang baru ini.

D. Komunitas Muslim Asia Tenggar

Islam masuk ke Asia Tenggara disebarluaskan melalui kegiatan kaum pedagang. Hal ini berbeda dengan daerah Islam di Dunia lainnya yang disebarluaskan melalui penaklulan Arab dan Turki. Islam masuk di Asia Tenggara dengan jalan damai, terbuka dan tanpa pemaksaan sehingga Islam sangat mudah diterima masyarakat Asia Tenggara.

Mengenai kedatangan Islam di negara-negara yang ada di Asia Tenggara hamper semuanya didahului oleh interaksi antara masyarakat di wilayah kepulauan dengan para pedagang Arab, India, Bengal, Cina, Gujarat, Iran, Yaman dan Arabia Selatan. Pada abad ke-5 sebelum Masehi Kepulauan Melayu telah menjadi tempat persinggahan para pedagang yang berlayar ke Cina dan mereka telah menjalin hubungan dengan masyarakat sekitar Pesisir. Kondisi semacam inilah yang dimanfaatkan para pedagang Muslim yang singgah untuk menyebarkan Islam pada warga sekitar pesisir.

1) Saluran Perdagangan

Pada taraf permulaan, proses masuknya Islam adalah melalui perdagangan. Kesibukan lalu-lintas perdagangan pada abad ke-7 hingga ke-16 membuat pedagangpedagang Muslim (Arab, Persia dan India) turut ambil bagian dalam perdagangan dari negeri-negeri bagian Barat, Tenggara dan Timur Benua Asia. Saluran Islamisasi melaui perdagangan ini sangat menguntungkan karena para raja dan bangsawan turut serta dalam kegiatan perdagangan, bahkan mereka menjadi pemilik kapal dan saham. Mereka berhasil mendirikan masjid dan mendatangkan mullah-mullah dari luar sehingga jumlah mereka menjadi banyak, dan karenanya anak-anak Muslim itu menjadi orang Jawa dan kaya-kaya. Di beberapa tempat penguasa-penguasa Jawa yang menjabat sebagai Bupati Majapahit yang ditempatkan di pesisir Utara Jawa banyak yang masuk Islam, bukan karena hanya faktor politik dalam negeri yang sedang goyah, tetapi karena factor hubungan ekonomi drengan pedagang-rpedrarrgarng Muslim. Perkembangan selanjutnya mereka kemudian mengambil alih perdagangan dan kekuasaan di tempat-tempat tinggalnya.

2) Saluran Perkawinan

Dari sudut ekonomi, para pedagang Muslim memiliki status sosial yang lebih baik daripada kebanyakan pribumi, sehingga penduduk pribumi terutama puteri-puteri bangsawan, tertarik untuk menjadi isteri saudagar-saudagar itu. Sebelum dikawin mereka diislamkan terlebih dahulu. Setelah mereka mempunyai keturunan, lingkungan mereka makin luas, akhirnya timbul kampung-kampung, daerah-daerah dan kerajaan Muslim.Dalam perkembangan berikutnya, ada pula wanita Muslim yang dikawini oleh keturunan bangsawan; tentu saja setelah mereka masuk Islam terlebih dahulu. Jalur perkawinan ini jauh lebih menguntungkan apabila antara saudagar Muslim dengan anak bangsawan atau anak raja dan anak adipati, karena raja dan adipati atau bangsawan itu kemudian turut mempercepat proses Islamisasi. Demikianlah yang terjadi antara Raden Rahmat atau sunan Ampel dengan Nyai Manila, Sunan Gunung Jati dengan puteri Kawunganten, Brawijaya dengan puteri Campa yang mempunyai keturunan Raden Patah (Raja pertama Demak) dan lain-lain.

3) Saluran Pendidikan

Islamisasi juga dilakukan melalui pendidikan, baik pesantren maupun pondok yang diselenggarakan oleh guru-guru agama, kiai-kiai dan ulama. Di pesantren atau pondok itu, calon ulama, guru agama dan kiai mendapat pendidikan agama. Setelah keluar dari pesantren, mereka pulang ke kampung masing-masing atau berdakwak ketempat tertentu mengajarkan Islam. Misalnya, pesantren yang didirikan oleh Raden rahmat di Ampel Denta Surabaya, dan Sunan Giri di Giri. Kleuaran pesantren ini banyak yang diundang ke Maluku untuk mengajarkan Agama Islam.

4) Saluran Kesenian

Islamisasi melaui kesenian yang paling terkenal adalah pertunjukan wayang. Dikatakan, Sunan Kalijaga adalah tokoh yang paling mahir dalam mementaskan wayang. Dia tidak pernah meminta upah pertunjukan, tetapi ia meminta para penonton untuk mengikutinya mengucapkan kalimat syahadat. Sebagian besar cerita wayang masih dipetik dari cerita Mahabarata dan Ramayana, tetapi dalam serita itu di sisipkan ajaran nama-nama pahlawan Islam. Kesenian-kesenian lainnya juga dijadikan alat Islamisasi, seperti sastra (hikayat, babad dan sebagainya), seni bangunan dan seni ukir.

5) Saluran Politik

Di Maluku dan Sulawesi selatan, kebanyakan rakyat masuk Islam setelah rajanya memeluk Islam terlebih dahulu. Pengaruh politik raja sangat membantu tersebarnya Islam di daerah ini. Di samping itu, baik di Sumatera dan Jawa maupun di Indonesia Bagian Timur, demi kepentingan politik, kerajaan-kerajaan Islam memerangi kerajaan-kerajaan non Islam. Kemenangan kerajaan Islam secara politis banyak menarik penduduk kerajaan bukan Islam itu masuk Islam.

E. Benturan dan Dialektika kawasan Timur (Islam) dan Barat

Pada awal dekade 1990-an, Samuel P Huntington menjadi sangat terkenal dengan wacana yang digulirkannya the clash of civilizations. Dalam bukunya, Huntington (2005) mengarahkan Barat dan para pemimpinnya untuk mewaspadai keberadaan Islam. Pasca kemunduran komunisme, Islam menjadi satu-satunya peradaban yang memiliki potensi besar untuk menggoncang peradaban Barat, seperti apa yang telah dibuktikan dalam sejarah.

Kekhawatiran tersebut tampaknya hampir menjadi kenyataan absolut saat pasca terjadinya Tragedi WTC, 11 September 2001. Meskipun hingga saat ini belum ada penjelasan dan kejelasan ilmiah mengenai siapa sesungguhnya aktor utama di balik peristiwa ini. Namun, secara sepihak, AS, sebagai pimpinan dalam struktur hegemoni Barat, mengarahkan tuduhannya terhadap Islam yang ditunjukkan dengan ekspansi militernya ke Afghanistan dan Irak. Peristiwa tersebut seakan memberikan sebuah pembenaran bahwa dekade benturan peradaban telah dimulai.

Proses dialektis antara Islam dan Barat dalam interaksi pada masa lalu telah menggariskan perjalanan panjang dan alur sejarah yang cukup kompleks dengan menciptakan sebuah produk pengalaman sejarah yang berbeda bagi kedua belah pihak. Damai dan perang mewarnai pola relasi mereka, sebagaimana bentuk relasi dua peradaban dunia lainnya. Salah satu sudut sejarah yang mungkin banyak disinggung dalam pembahasan ini adalah pada periode kejayaan Islam (7-14 M). Selama masa tersebut, Islam menjadi sebuah kekuatan yang mampu mendominasi dua per tiga wilayah peradaban dunia, mulai dari Andalusia di sisi barat, hingga Cina.

Posisi Eropa sebagai tanah pertiwi kelahiran peradaban Barat pada masa tersebut tidak lain sebagai sebuah area pemukiman ‘primitif’ yang sangat kental dengan nuansa mistik dan absolutisme gereja sebagai kekuatan hegemonik. Hingga tidak heran, Barat pun menyebut periode tersebut sebagai sebuah masa kegelapan (The Dark Ages). Dalam ketidaksadaran masyarakat ini, Gereja menciptakan mitos-mitos agama yang merupakan sebuah legalitas atas kekuasaan yang mereka rampas atas masyarakat Eropa itu sendiri.

Islam sebagai kekuatan pencerahan seakan membawa cahaya baru bagi hutan ‘kelam’ rimba Eropa. Secara perlahan, pembebasan yang dilakukan oleh Islam mulai merambah wilayah-wilayah yang sebelumnya menjadi kekuasaan dominasi hegemonistik Gereja. Bermula dari pembebasan Yerussalem, Istanbul, Mesir, Cartago, hingga akhirnya mengelilingi daerah yang sebelumnya adalah wilayah kekuasaan absolutis Gereja, Andalusia di barat dan gerbang kota Wina di timur. Bukti kejayaan sejarah ini menciptakan sebuah ketakutan tersendiri bagi Barat, yang merupakan keturunan dari Eropa, terhadap Islam (Islamophobia).

Sepertinya, ketakutan tersebut menjadi sebuah warisan sejarah yang terus disosialisasikan dan diinternalisasikan dalam individu di masyarakat Barat. Akibatnya, pencitraan Barat terhadap Islam selalu bergerak ke arah yang bersifat negatif. Faktor lain yang menjadi kekhawatiran Barat terhadap Islam adalah perbedaan fundamental mengenai pemahaman mereka tentang konsepsi kehidupan. Pada masa hegemoni Gereja, masyarakat Eropa dibawa dalam sebuah kegelapan dengan dominasi doktrin ortodok Gereja tentang hidup yang bersifat teologis. Masyarakat terkekang dengan semua aturan mati yang tak terbantahkan, meskipun hal tersebut adalah sesat. Namun, Renaisans mampu membawa masyarakat pada sebuah era pencerahan (The Ages of Enlightment) dengan konsepsi kebebasan mutlak manusia. Dampaknya adalah Gereja sebagai simbol teologis didefinisikan sebagai kekuatan yang menghambat perkembangan kemajuan masyarakat. Walhasil, agama dikucilkan oleh Barat hanya pada sudut-sudut gereja.

Sementara itu, Islam merupakan sebuah kekuatan peradaban yang mampu mengelaborasikan antara kekuatan dari doktrin teks dengan konteks masyarakat, sebagaimana telah terjadi pada masa pertengahan. Karenanya, Barat melihat bahwa Islam merupakan sebuah hambatan bagi Barat yang materialistis dalam menyebarkan eksistensinya dengan pola modernitas yang menjauhkan agama dari kehidupan sehari-hari (sekular). Perbedaan fundamental ini menjadi salah satu penyebab timbulnya ketegangan antara Barat dan Islam. Islam merupakan kekuatan sesungguhnya yang menjadi hambatan bagi Barat. Karena itu, Huntington (2005) menulis bahwa konflik antara Kapitalis dan Marxis hanyalah konflik yang sesaat yang berifat dangkal.

Lantas muncul pertanyaan, apakah memang Barat dan Islam ditakdirkan menjadi sebuah seteru abadi yang tak pernah usang terlekang zaman? Paul Brass (1993) melihat bahwa perbedaan menjadi sebuah sumber daya politis yang diciptakan dan dieksploitasi oleh elite politik. Karenanya, konflik yang terjadi sepanjang perjalanan sejarah manusia bukan disebabkan mereka berbeda secara fisik dan ideologis, tetapi karena adanya kekuatan elit politik yang mengeksploitasi dari perbedaan eksistensi setiap dari mereka.

Konsepsi tentang Clash of Civilization merupakan sebuah bentuk eksploitasi perbedaan tersebut. Gambaran tersebut menunjukkan bagaimana sosok Huntington sebagai seorang analis politik pemerintah AS, yang merupakan subjek utama Barat, menciptakan sebuah stereotipe dan citra negatif tentang Islam. Dalam tesisnya, Huntington (2005) menggambarkan bagaimana Islam merupakan bentuk peradaban yang sangat tidak beradab. Dengan data kuantitatif yang sederhana, Huntington memaparkan bahwa Islam merupakan satu-satunya peradaban yang paling banyak memiliki konflik dengan entitas non-Islam lainnya. Dari asumsi singkat tersebut, Huntington membuat sebuah konsepsi sesat bahwa Islam adalah teroris yan menyukai konflik terhadap kelompok lainnya.

Salah satu analisa Huntington (2005) adalah konflik di Bosnia yang mempertentangkan antara Muslim Bosnia dan Kristen Serbia. Dalam penjelasan tersebut, ia hanya menulis bahwa terjadi konflik antara Islam dan non-Islam. Namun, tidak dijelaskan apa dan bagaimana asal-muasal konflik itu terjadi. Analisa deskriptif seperti ini tentunya membangun citra negatif terhadap Islam yang dikuantifikasikan secara sederhana sebagai peradaban yang menyukai perang. Padahal, dalam konflik tersebut, posisi Islam merupakan objek yang lemah yang tengah dibantai oleh Kristen Serbia dalam sebuah Ethnic Cleansing. Kondisi yang tidak lebih buruk dari Holocaust yang masih dipertanyakan kebenaran sejarahnya.

Analisa Huntington mengenai Clash of Civilization ini tampaknya menjadi panduan bagi Barat,khususnya AS dan sekutunya, dalam menentukan setiap sikap mereka untuk berinteraksi dengan Islam. Clash of Civilization telah membawa perubahan sikap politik luar negeri AS. Jika sebelumnya AS menggunakan containtment (penangkalan) dan detterence (penangkisan) dalam menghadapi rivalnya, Uni Soviet dalam Perang Dingin. Maka,kini AS menggunakan preemptive strike dalam menghadapi kekuatan Islam (Husaini, 2005).

Tentunya menimbulkan sebuah kesangsian, adalah bagaimana AS menggunakan tindakan containtment dan detterence dalam menghadapi Uni Soviet yang merupakan kekuatan adidaya pada masanya. Tapi, justru menerapkan preemptive strike saat berhadapan dengan Islam. Hal ini tentunya tidak akan terjadi jika AS dan sekutunya (Barat) tidak menggunakan konsepsi Clash of Civilization atas kebijakan global dan internalnya.

Sementara, aspek lain yang membuat pertentangan tersebut menjadi nyata adalah pendudukan tanah Palestina oleh Israel. Palestina adalah satu-satunya tempat di dunia kontemporer yang masih terjadi kolonialisasi model kuno. Ia merupakan pusat dunia, strategis baik secara potensi sumber daya alam, ekonomi, politik, maupun militer (Sandhiyuda, 2005). Keberadaan Israel di tanah Palestina merupakan konflik yang hingga saat ini menjadi problematikan dalam relasi Islam dan Barat. Sengket tersebut menciptakan pergesekan yang keras.

Dalam tulisannya, Hasan Al-Banna (2005) menjelaskan bahwa setiap jengkal tanah di mana ada manusia yang memeluk Islam, maka tanah tersebut adalah bagian dari tanah air Islam yang harus terbebaskan. Penjajahan Israel di Palestina merupakan satu hal yang melanggar aturan universal tentang eksistensi sebuah bangsa. Sebelumnya, Israel merupakan bangsa yang terdiaspora di berbagai penjuru dunia. Namun, dalam perjanjian Balfour yang merupakan produk politik Barat membawa Israel menduduki tanah Palestina. Dengan kondisi tersebut tentunya sangat menyakiti hati ummat Islam, terutama Indonesia yang merupakan negara dengan jumlah mayoritas penduduk muslim terbesar di dunia. Bukankah kemerdekaan adalah hak setiap bangsa, karenanya penjajahan di atas dunia harus dihapuskan.

You Might Also Like:

This Is The Oldest Page
Disqus Comments