Hamba Allah

11/11/2018

Hukum Melaksanakan Shalat Rabu Wekasan dalam Islam

Isu mengenai Rabu terakhir di bulan Shafar atau lebih dikenal dengan istilah Rebo wekasan bukan merupakan hal yang baru. Banyak perbincangan dan kajian berkaitan dengan isu tersebut. Mulai dari sejarah, ritual-ritual atau musibah-musibah yang diasumsikan pada hari tersebut. Termasuk yang sering ramai diperbincangkan adalah ritual shalat Rebo wekasan. Sebagian menerima, sebagian yang lain menolaknya. Sebenarnya bagaimana pandangan fiqih Islam mengenai hukum shalat Rebo wekasan?
Hukum Melaksanakan Shalat Rabu Wekasan dalam Islam

Pada dasarnya, tidak ada nash sharih yang menjelaskan anjuran shalat Rebo wekasan. Oleh karenanya, bila shalat Rebo wekasan diniati secara khusus, misalkan “aku niat shalat Shafar”, “aku niat shalat Rebo wekasan”, maka tidak sah dan haram. Hal ini sesuai dengan prinsip kaidah fiqih:

والأصل في العبادة أنها إذا لم تطلب لم تصح

“Hukum asal dalam ibadah apabila tidak dianjurkan, maka tidak sah.” (Syekh Sulaiman al-Bujairimi, Tuhfah al-Habib Hasyiyah ‘ala al-Iqna’, juz 2, hal. 60).

Atas pertimbangan tersebut, ulama mengharamkan shalat Raghaib di awal Jumat bulan Rajab, shalat nishfu Sya’ban, shalat Asyura’ dan shalat kafarat di akhir bulan Ramadhan, sebab shalat-shalat tersebut tidak memiliki dasar hadits yang kuat.

Ditegaskan dalam kitab I’anah al-Thalibin:

قال المؤلف في إرشاد العباد ومن البدع المذمومة التي يأثم فاعلها ويجب على ولاة الأمر منع فاعلها صلاة الرغائب اثنتا عشرة ركعة بين العشاءين ليلة أول جمعة من رجب وصلاة ليلة نصف شعبان مائة ركعة وصلاة آخر جمعة من رمضان سبعة عشر ركعة بنية قضاء الصلوات الخمس التي لم يقضها وصلاة يوم عاشوراء أربع ركعات أو أكثر وصلاة الأسبوع أما أحاديثها فموضوعة باطلة ولا تغتر بمن ذكرها اه

“Sang pengarang (syekh Zainuddin al-Malibari) berkata dalam kitab Irsyad al-‘Ibad, termasuk bid’ah yang tercela, pelakunya berdosa dan wajib bagi pemerintah mencegahnya, adalah shalat Raghaib, 12 Rakaat di antara maghrib dan Isya’ di malam Jumat pertama bulan Rajab, shalat nishfu Sya’ban sebanyak 100 rakaat, shalat di akhir jumat bulan Ramadhan sebanyak 17 rakaat dengan niat mengganti shalat lima waktu yang ditinggalkan, shalat hari Asyura sebanyak 4 rakaat atau lebih dan shalat ushbu’. Adapun hadits-hadits shalat tersebut adalah palsu dan batal, jangan terbujuk oleh orang yang menyebutkannya.” (Syekh Abu Bakr bin Syatha, I’anah al-Thalibin, juz 1, hal. 270).

Hanya saja, bila shalat Rebo wekasan diniati shalat sunah mutlak, dalam titik ini, ulama berbeda pandangan. Menurut Hadlratus Syekh KH. Hasyim Asy’ari haram. Dalam pandangan beliau, anjuran shalat sunah mutlak yang ditetapkan berdasarkan hadits shahih tidak berlaku untuk shalat Rebo wekasan, sebab anjuran tersebut hanya berlaku untuk shalat-shalat yang disyariatkan.

Dalam himpunan fatwanya, Rais Akbar NU tersebut mengatakan dalam tulisan bahasa Jawa pegon:

اورا ويناع فيتواه اجاء اجاء لن علاكوني صلاة رابو وكاسان لن صلاة هدية كاع كاسبوت اع سؤال كارنا صلاة لورو ايكو ماهو اورا انا اصلى في الشرع. والدليل على ذلك خلو الكتب المعتمدة عن ذكرها كايا كتاب تقريب، المنهاج القويم، فتح المعين ، التحرير لن سافندوكور كايا كتاب النهاية المهذب لن احياء علوم الدين، كابيه ماهو أورا انا كاع نوتور صلاة كاع كاسبوت. الى ان قال وليس لأحد أن يستدل بما صح عن رسول الله انه قال الصلاة خير موضوع فمن شاء فليستكثر ومن شاء فليستقلل، فإن ذلك مختص بصلاة مشروعة

“Tidak boleh berfatwa, mengajak dan melakukan shalat Rebo Wekasan dan shalat hadiah yang disebutkan dalam pertanyaan, karena dua shalat tersebut tidak ada dasarnya dalam syariat. Tendensinya adalah bahwa kitab-kitab yang bisa dibuat pijakan tidak menyebutkannya, seperti kitab al-Taqrib, al-Minhaj al-Qawim, Fath al-Mu’in, al-Tahrir dan kitab seatasnya seperti al-Nihayah, al-Muhadzab dan Ihya’ Ulum al-Din. Semua kitab-kitab tersebut tidak ada yang menyebutkannya. Bagi siapapun tidak boleh berdalih kebolehan melakukan kedua shalat tersebut dengan hadits shahih bahwa Nabi bersabda, shalat adalah sebaik-baiknya tempat, perbanyaklah atau sedikitkanlah, karena sesungguhnya hadits tersebut hanya mengarah kepada shalat-shalat yang disyariatkan.” (KH. Hasyim Asy’ari sebagaimana dikutip kumpulan Hasil Bahtsul Masail PWNU Jawa Timur).

Sedangkan menurut Syekh Abdul Hamid bin Muhammad Quds al-Maki hukumnya boleh. Menurut beliau, solusi untuk membolehkan shalat-shalat yang ditegaskan haram dalam nashnya para fuqaha’ adalah dengan cara meniatkan shalat-shalat tersebut dengan niat shalat sunah mutlak. Beliau menegaskan:

قلت ومثله صلاة صفر فمن أراد الصلاة فى وقت هذه الأوقات فلينو النفل المطلق فرادى من غير عدد معين وهو ما لا يتقيد بوقت ولا سبب ولا حصر له . انتهى

“Aku berpendapat, termasuk yang diharmkan adalah shalat Shafar (Rebo wekasan), maka barang siapa menghendaki shalat di waktu-waktu terlarang tersebut, maka hendaknya diniati shalat sunah mutlak dengan sendirian tanpa bilangan rakaat tertentu. Shalat sunah mutlak adalah shalat yang tidak dibatasi dengan waktu dan sebab tertentu dan tidak ada batas rakaatnya.” (Syekh Abdul Hamid bin Muhammad Quds al-Maki, Kanz al-Najah wa al-Surur, hal. 22).

Shalat Rebo wekasan sendiri dijelaskan secara rinci meliputi tata cara dan doanya oleh Syekh Abdul Hamid Quds dalam Kanz al-Najah wa al-Surur. Demikian pula disebutkan oleh Syekh Ibnu Khatiruddin al-Athar dalam kitab al-Jawahir al-Khams. Shalat Rebo wekasan umum dilakukan di beberapa daerah, ada yang melakukannya secara berjamaah, ada dengan sendiri-sendiri.

Demikian penjelasan mengenai hukum shalat Rebo wekasan. Ikhtilaf ulama sebagaimana di jelaskan di atas adalah hal yang sudah biasa dalam fiqih, masing-masing memiliki argumen yang dapat dipertanggung jawabkan, perbedaan tersebut tidak untuk dipertentangkan atau ajang saling bully, namun sebagai rahmat bagi umat, membuka ruang seluas-luasnya bagi mereka untuk menjalankan ritual agama tanpa keluar dari batas syariat. [nu online]

11/04/2018

Dalil Lengkap Tentang Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW merupakan acara rutinitas yang dilaksanakan oleh mayoritas muslim untuk mengingat, mengenang, dan menghayati kelahiran Rasulullah SAW Nabi akhir Zaman. Ada sebagian golongan menganggap bahwa maulid adalah bid'ah, namun ternyata banyak al-Qur'an dan Hadits yang menjadi dalil bahwa maulid bukanlah bid'ah yang dilarang.
Dalil Lengkap Tentang Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW

Bahkan peringatan maulid Nabi memiliki banyak keutamaan diantaranya adalah Ungkapan Kecintaan Kepada Nabi Muhammad, Meneguhkan Kembali Kecintaan kepada Beliau, Mendapatkan rahmat Allah berupa taman surga dan dibangkitkan bersama-sama golongan orang yang jujur, orang yang mati syahid dan orang yang sholeh.

Peringatan maulid Nabi seperti gambaran di atas tidak pernah terjadi pada masa Rasulullah maupun sahabat. Karena alasan inilah, sebagian kaum muslimin tidak mau merayakan maulid Nabi, bahkan mengklaim bid`ah pelaku perayaan maulid. Menurut kelompok ini seandainya perayaan maulid memang termasuk amal shaleh yang dianjurkan agama, mestinya generasi salaf lebih peka, mengerti dan juga menyelenggarakannya.

Maulid Bukan Bid'ah Yang Dilarang


Sangat penting kiranya untuk memperjelas hakikat perayaan maulid, dalil-dalil yang membolehkan dan tanggapan terhadap yang membid'ahkan

Telah banyak terjadi kesalahan dalam memahami hadits Nabi tentang masalah bid`ah dengan mengatakan bahwa setiap perbuatan yang belum pernah dilakukan pada masa Rasulullah adalah perbuatan bid`ah yang sesat dan pelakunya akan dimasukkan ke dalam neraka dengan berlandaskan pada hadist berikut ini:

وإيَّاكم ومحدثات الأمور؛ فإنَّ كلَّ محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة

Artinya: Berhati-hatilah kalian dari sesuatu yang baru, karena setiap hal yang baru adalah bid`ah dan setipa bid`ah adalah sesat”. [HR. Ahmad No 17184].

Pemahaman Hadits ini bisa salah apabila tidak dikaitkan dengan Hadits yang lain, yaitu,

من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد

Artinya:Siapa saja yang membuat sesuatu yang baru dalam masalah kami ini, yang tidak bersumber darinya, maka dia ditolak. [HR al-Bukhori No 2697]

Ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan أمرنا dalam hadits di atas adalah urusan agama, bukan urusan duniawi, karena kreasi dalam masalah dunia diperbolehkan selama tidak bertentangan dengan syariat. Sedangkan kreasi apapun dalam masalah agama adalah tidak diperbolehkan. [Yusuf al-Qaradhawi, Bid`ah dalam Agama, hal 177]

Dengan demikian, maka makna hadits di atas adalah sebagai berikut,

“Barang siapa berkereasi dengan memasukkan sesuatu yang sesungguhnya bukan agama, lalu diagamakan, maka sesuatu itu merupakan hal yang ditolak”

Dapat dipahami bahwa bid`ah yang dhalalah (sesat) dan yang mardudah (yang tertolak) adalah bid`ah diniyah. Namun banyak orang yang tidak bisa membedakan antara amaliyah keagamaan dan instrumen keagamaan. Sama halnya dengan orang yang tidak memahami format dan isi, sarana dan tujuan. Akibat ketidakpahamannya, maka dikatakan bahwa perayaan maulid Nabi sesat, membaca Al-Qur’an bersama-sama sesat dan seterusnya. Padahal perayaan maulid hanyalah merupakan format, sedangkan hakikatnya adalah bershalawat, membaca sejarah perjuangan Rasulullah, melantunkan ayat Al-Qur’an, berdoa bersama dan kadang diisi dengan ceramah agama yang mana perbuatan-perbuatan semacam ini sesuai dengan tuntunan Al-Qur’an maupun Hadits.

Dan lafadz كل pada hadits tentang bid`ah di atas adalah lafadz umum yang ditakhsis. Dalam Al-Qur’an juga ditemukan beberapa lafadz كل yang keumumannya di takhsis. Salah satu contohnya adalah ayat 30 Surat al-Anbiya`:

وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَي

Artinya:  Dan kami jadikan segala sesuatu yang hidup itu dari air. (QS al-Anbiya': 30)

Kata segala sesuatu pada ayat ini tidak dapat diartikan bahwa semua benda yang ada di dunia ini tecipta dari air, tetapi harus diartikan sebagian benda yang ada di bumi ini tercipta dari air. Sebab ada benda-benda lain yang diciptakan tidak dari air, namun dari api, sebagaimana firman Allah dalam Surat ar-Rahman ayat 15:

وَخَلَقَ الْجَانَّ مِنْ مَارِجٍ مِنْ نَار

Artinya: Dan Allah menciptakan jin dari percikan api yang menyala.

Oleh karena itulah, tidak semua bid`ah dihukumi sesat dan pelakunya masuk neraka. Bid`ah yang sesat adalah bid`ah diniyah, yaitu meng-agamakan sesuatu yang bukan agama. Adapun perayaan maulid Nabi tidaklah termasuk bid`ah yang sesat dan dilarang karena yang baru hanyalah format dan instrumennya.

Berkenaan dengan hukum perayaan maulid, As-Suyuthi dalam al-Hawi lil Fatawi menyebutkan redaksi sebagai berikut:

أَصْلُ عَمَلِ الْمَوْلِدِ بِدْعَةٌ لَمْ تُنْقَلْ عَنِ السَّلَفِ الصَّالِحِ مِنَ الْقُرُوْنِ الثَّلاَثَةِ، وَلكِنَّهَا مَعَ ذلِكَ قَدْ اشْتَمَلَتْ عَلَى مَحَاسِنَ وَضِدِّهَا، فَمَنْ تَحَرَّى فِيْ عَمَلِهَا الْمَحَاسِنَ وَتَجَنَّبَ ضِدَّهَا كَانَتْ بِدْعَةً حَسَنَةً" وَقَالَ: "وَقَدْ ظَهَرَ لِيْ تَخْرِيْجُهَا عَلَى أَصْلٍ ثَابِتٍ.

“Hukum Asal peringatan maulid adalah bid’ah yang belum pernah dinukil dari kaum Salaf saleh yang hidup pada tiga abad pertama, tetapi demikian peringatan maulid mengandung kebaikan dan lawannya, jadi barangsiapa dalam peringatan maulid berusaha melakukan hal-hal yang baik saja dan menjauhi lawannya (hal-hal yang buruk), maka itu adalah bid’ah hasanah”. Al-Hafizh Ibn Hajar juga mengatakan: “Dan telah nyata bagiku dasar pengambilan peringatan Maulid di atas dalil yang tsabit (Shahih)”.

Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki Al-Hasani, mengatakan:

وَالْحَاصِلُ اَنّ الْاِجْتِمَاعَ لِاَجْلِ الْمَوْلِدِ النَّبَوِيِّ اَمْرٌ عَادِيٌّ وَلَكِنَّهُ مِنَ الْعَادَاتِ الْخَيْرَةِ الصَّالِحَةِ الَّتِي تَشْتَمِلُ عَلَي مَنَافِعَ كَثِيْرَةٍ وَفَوَائِدَ تَعُوْدُ عَلَي النَّاسِ بِفَضْلٍ وَفِيْرٍ لِاَنَّهَا مَطْلُوْبَةٌ شَرْعًا بِاَفْرِادِهَا.

Artinya: Bahwa sesungguhnya mengadakan Maulid Nabi Saw merupakan suatu tradisi dari tradisi-tradisi yang baik, yang mengandung banyak manfaat dan faidah yang kembali kepada manusia, sebab adanya karunia yang besar. Oleh karena itu dianjurkan dalam syara’ dengan serangkaian pelaksanaannya. [Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki, Mafahim Yajibu An-Tushahha, hal. 340]

Dari paparan di atas, dapat disimpulkan bahwa perayaan maulid Nabi hanya formatnya yang baru, sedangkan isinya merupakan ibadah-ibadah yang telah diatur dalam Al-Qur’an maupun Hadits. Oleh karena itulah, banyak ulama yang mengatakan bahwa perayaan maulid Nabi adalah bid`ah hasanah dan pelakunya mendapatkan pahala.

Dalil-dalil Syar`i Perayaan Maulid Nabi


Di antara dalil perayaan maulid Nabi Muhammad menurut sebagian Ulama` adalah firman Allah:

قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ

Artinya: “Katakanlah, dengan anugerah Allah dan rahmatNya (Nabi Muhammad Saw) hendaklah mereka menyambut dengan senang gembira.” (QS.Yunus: 58)

Ayat ini menganjurkan kepada umat Islam agar menyambut gembira anugerah dan rahmat Allah. Terjadi perbedaan pendapat diantara ulama dalam menafsiri الفضل dan الرحمة. Ada yang menafsiri kedua lafadz itu dengan Al-Qur’an dan ada pula yang memberikan penafsiran yang berbeda.

Abu Syaikh meriwayatkan dari Ibnu Abbas RA bahwa yang dimaksud dengan الفضل adalah ilmu, sedangkan الرحمة adalah Nabi Muhammad SAW. Pendapat yang masyhur yang menerangkan arti الرحمة dengan Nabi SAW ialah karena adanya isyarat firman Allah SWT yaitu,

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

Artinya: “Kami tidak mengutus engkau melainkan sebagai rahmat bagi semesta alam. (QS. Al-Ambiya’:107).”[Abil Fadhol Syihabuddin Al-Alusy, Ruhul Ma’ani, Juz 11, hal. 186]

Menurut Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki Al-Hasani Bergembira dengan adanya Nabi Muhammad SAW ialah dianjurkan berdasarkan firman Allah SWT pada surat Yunus ayat 58 di atas. [Sayyid Muhammad Al-Maliki Al-Hasani, Ikhraj wa Ta’liq Fi Mukhtashar Sirah An-Nabawiyah, hal 6-7]

Dalam kitab Fathul Bari karangan al- Hafidz Ibnu Hajar al-Asqolani diceritakan bahwa Abu Lahab mendapatkan keringanan siksa tiap hari senin karena dia gembira atas kelahiran Rasulullah. Ini membuktikan bahwa bergembira dengan kelahiran Rasulullah memberikan manfaat yang sangat besar, bahkan orang kafirpun dapat merasakannya. [Ibnu hajar, Fathul Bari, Juz 11, hal 431]

Riwayat senada juga ditulis dalam beberapa kitab hadits di antaranya Shohih Bukhori, Sunan Baihaqi al-Kubra dan Syi`bul Iman. [Maktabah Syamilah, Shahih Bukhari, Juz 7, hal 9, Sunan Baihaqi al-Kubra, Juz 7, hal 9, Syi`bul Iman, Juz 1, hal 443]. [nu online]

Inilah Tiga Ilmu yang Wajib Dipelajari Orang Muslim

Adalah pemandangan yang kaprah di masyarakat, ilmu dibedakan menjadi ilmu agama dan ilmu umum. Pemahaman ini kemudian lebih dikuatkan dengan adanya pembagian sekolah yang disebut dengan sekolah umum dan sekolah agama atau yang lebih dikenal dengan madrasah.
Inilah Tiga Ilmu yang Wajib Dipelajari Orang Muslim

Sesungguhnya para ulama tidak membagi ilmu dengan pembagian yang demikian. Bila membaca berbagai literatur akan didapati bahwa yang dibedakan oleh para ulama bukanlah jenis ilmunya, namun hukum mempelajarinya. Dalam kitab Ihya Ulûmid Dîn misalnya Imam Al-Ghazali membedakan ilmu menjadi ilmu yang fardlu ‘ain hukumnya untuk dipelajari dan ilmu yang fardlu kifayah hukumnya untuk dipelajari.

Ilmu yang fardlu kifayah hukum mempelajarinya berarti tidak setiap orang Islam wajib mempelajari ilmu tersebut. Bila ada satu di antara mereka yang telah mempelajarinya maka itu sudah cukup menggugurkan orang Islam lain untuk mempelajarinya. Termasuk dalam kategori ilmu ini adalah ilmu hadis, ilmu tafsir, ilmu kedokteran, ilmu biologi dan lain sebagainya. Bila ada satu orang Islam yang mempelajarinya maka gugurlah kewajiban orang Islam lainnya untuk memepelajarinya.

Sedangkan ilmu yang hukum mempelajarinya adalah fardlu ‘ain maka ilmu ini tidak bisa tidak harus dipelajari dan dipahami oleh setiap individu Muslim. Tak ada celah bagi seorang Muslim untuk tidak mempelajari ilmu pada kategori ini.

Lalu ilmu apa saja yang hukum mempelajarinya termasuk dalam kategori fardlu ‘ain?


Menurut Syekh Zainudin Al-Malibari di dalam kitab Mandhûmatu Hidâyatil Adzkiyâ’ ilâ Tharîqil Auliyâ’, di mana kitab ini diberi penjelasan oleh Sayid Bakri Al-Makki dalam kitab Kifâyatul Atqiyâ’ wa Minhâjul Awliyâ’, bahwa ada 3 (tiga) ilmu yang wajib dipelajari oleh setiap orang Muslim dengan kewajiban fardlu ‘ain. Ketiga ilmu itu adalah ilmu yang menjadikan ibadah menjadi sah, ilmu yang mengesahkan aqidah, dan ilmu yang menjadikan hati bersih.

Dalam kitab itu Al-Malibari menuturkan:

Pelajarilah ilmu yang mengesahkan ketaatan
mengesahkan aqidah serta mensucikan hati
Ketiganya ini fardlu ain hukumnya, ketahuilah
amalkanlah, maka terwujud keselamatan dan kehormatan

Inilah tiga ilmu yang setiap orang Islam wajib mempelajarinya:


Pertama, ilmu yang menjadikan sahnya ibadah kepada Allah adalah ilmu fiqih yang membahas tentang bagaimana semestinya seorang Muslim beribadah kepada Allah. Sebagai contoh, setiap Muslim wajib mempelajari ilmu tentang bagaimana caranya shalat yang benar dan baik. Juga ia wajib mempelajari berbagai ilmu yang berkaitan dengan keabsahan shalat, seperti caranya berwudlu, cara mensucikan berbagai macam najis, bertayamum, beristinja dan lain sebagainya.

Seorang Muslim juga wajib mempelajari ilmu-ilmu yang berkaitan dengan ibadah-ibadah lain seperti puasa, zakat, haji dan lain sebagainya. Termasuk juga dalam kategori ini adalah ilmu muamalat, ilmu yang mengatur bagaimana semestinya seseorang melakukan berbagai macam kegiatan yang berhubungan dengan sesama manusia, seperti jual beli, sewa menyewa, penitipan, dan sebagainya.

Ilmu-ilmu ini fardlu ain hukumnya untuk dipelajari mengingat amalan seseorang yang tidak didasari dengan ilmu maka amalan yang dilakukannya itu menjadi batal, tak diterima. Sebagaimana dituturkan Ibnu Ruslan dalam kitab Zubad:

Setiap orang yang beramal tanpa ilmu
Maka amalnya tertolak, tak diterima

Kedua, ilmu yang menjadikan aqidah atau kepercayaan seseorang menjadi benar sesuai dengan aqidah yang dianut oleh para ulama Ahlussunah wal Jama’ah. Dengan mempelajari dan memahami ilmu ini maka seseorang akan terjaga dari aqidah-aqidah yang rusak dan tidak benar seperti aqidah Mu’tazilah, Jabariyah, dan Mujassimiyah.

Orang yang tidak mempelajari ilmu ini maka dikhawatirkan ia akan salah dalam memahami dan meyakini perihal bagaimana Allah dan berbagai permasalahan keimanan lainnya.

Ketiga, ilmu yang menjadikan hati bersih dari berbagai macam akhlak yang jelek seperti riya, sombong, dengki, hasud dan berbagai macam penyakit hati lainnya. Ilmu ini wajib pula dipelajari oleh setiap orang Muslim mengingat perilaku orang tidak hanya apa yang dilakukan oleh anggota badan secara lahir namun juga perilaku-perilaku hati secara batin.

Sayid Bakri Al-Makki memberikan penjelasan masalah ini di dalam kitabnya Kifâyatul Atqiyâ’ wa Minhâjul Ashfiyâ’. Beliau menuturkan bahwa tak ada kelonggaran bagi seorang pun untuk tidak mengetahui ketiga ilmu tersebut. Inilah ilmu syariat yang bermanfaat. Tak cukup dengan memepelajari dan mengetahuinya saja. Orang yang telah mempelajarinya juga mesti mengamalkannya. Karena siapapun yang telah mengetahui ketiga ilmu ini tidak akan bisa selamat kecuali dengan mengamalkannya.

Ya, untuk mendapatkan keselamatan di akherat kelak serta tingginya derajat di dunia dan akherat tak bisa lepas dari tiga hal: keyakinan atau aqidah yang benar, ibadah yang benar, dan hati yang bersih.

Hal ini semestinya menjadi perhatian bagi setiap orang Muslim. Lebih-lebih semestinya menjadi perhatian bagi para orang tua untuk lebih mengutamakan ketiga ilmu tersebut bagi para anaknya. Sudah semestinya ketika anak-anak masih belum akil baligh setiap orang tua lebih mementingkan ketiga ilmu tersebut dibanding ilmu-ilmu lainnya. Ini dikarenakan ketika sang anak sudah menginjak masa akil baligh, yang artinya dia telah mukallaf dan menanggung setiap akibat perbuatannya, maka ia sudah harus melakukan berbagai macam tuntutan syariat yang akan memberinya pahala bila melakukannya dan memberinya dosa bila meninggalkannya. Untuk melakukan tuntutan syariat ini mau tidak mau ia harus telah memiliki dan memahami ilmu-ilmunya yang semestinya telah dipelajari sejak dari kecil.

Bila sampai dengan akil baligh sang anak belum tahu bagaimana semestinya beraqidah dan beribadah kepada Allah sehingga ia melakukan kesalahan, maka orang tua akan ikut menanggung akibat dari kesalahan tersebut, karena keteledorannya yang tak memberikan ilmu agama yang cukup saat sang anak masih belum baligh.

Tidak salah memberikan berbagai macam ilmu ketika anak masih duduk di bangku sekolah dasar, sebelum anak akil baligh. Tetapi adalah kerugian yang besar bila orang tua tak memperhatikan dan tak memberikan ilmu yang cukup bagi anak untuk kelak ketika ia telah akil baligh berhubungan dengan Tuhan dan sesama makhluk dengan baik dan benar. [nu online]

11/03/2018

12 Adab Pelajar Kepada Guru Menurut KH Hasyim Asyari

Adab Pelajar Kepada Guru - Adab secara bahasa berarti kehalusan, kesopanan, dan budi pekerti baik. Sedangkan adab secara istilah merupakan aturan sopan santun yang didasarkan kepada norma agama. Adapun orang dikatakan beradab adalah orang yang mengetahui adab dan bersikap sopan santun sesuai dengan yang ditentukan oleh agama.
Adab Pelajar Kepada Guru
NU Online

Dalam adab menuntut ilmu, sebagai pelajar harus memahami adab sopan santun kepada guru, bagaimana bersikap dan berbahasa yang baik di hadapan guru. Semua itu demi mendapatkan ilmu bermanfaat untuk kehidupan dunia dan di akhirat kelak.

Keberhasilan para ulama tidak bisa dilepaskan dari faktor etika kepada guru/kiainya. Bahkan sebagian ulama berpendapat bahwa 70 persen keberhasilan santri dikarenakan adabnya, 30 persen karena kesungguhannya. Ilmu para ulama tidak hanya bermanfaat untuk dirinya namun juga untuk masyarakat luas, tidak pula berkaitan dengan urusan ubudiyyah mahdlah namun juga berhubungan dengan interaksi sosial keumatan.

12 Adab Pelajar Kepada Guru Menurut KH Hasyim Asyari


Bagaimana kiat dan langkah menjadi pelajar yang beretika kepada gurunya? Hadratussyekh Muhammad Hasyim Asy’ari dalam kitabnya Adab al-Alim wa al-Muta’allim menyebutkan ada 12 adab seorang santri kepada gurunya.

Pertama, berpikir matang-matang sebelum memilih guru.


Seorang pelajar atau santri tidak boleh sembarangan memilih guru yang hendak ia timba ilmu dan adabnya. Sebelum memutuskan siapa gurunya, hendaknya terlebih dahulu beristikharah, meminta petunjuk kepada Allah agar diberi guru yang terbaik untuk dirinya. Bila memungkinkan, guru yang dipilih sebaiknya adalah pribadi yang betul-betul mumpuni ilmunya, dapat menjaga harga dirinya, memiliki kasih sayang, dan masyhur keterjagaannya (dari hal-hal tercela). Guru sebaiknya juga seseorang yang baik penyampaiannya. Karena begitu pentingnya memilih seorang guru, sebagian ulama mengatakan:

هذا العلم دين فانظروا عمن تأخذون دينكم

“Ilmu ini adalah agama, maka lihatlah dari mana kalian mengambilnya.”

Kedua, memilih guru yang kredibel


Guru yang dipilih hendaknya orang yang mengerti agama secara sempurna, sanad keilmuannya jelas, yaitu mereka yang diketahui mengambil ilmu dari para masyayikh yang cerdas, dari gurunya lagi, hingga Rasulullah Saw. Tidak cukup belajar agama dari seseorang yang hanya mengambil ilmu dari buku-buku tanpa digurukan. Menurut Hadratussyekh, belajar tanpa memiliki sanad keilmuan yang jelas atau hanya mencukupkan dari buku-buku, sangat mengkhawatirkan. Rentan sekali terdapat kekeliruan. Oleh karenanya, di samping rajin membaca dan mempelajari buku-buku, penting sekali untuk mencari guru yang mentashih atau membenarkan. Rais akbar Nahdlatul Ulama tersebut mengutip statemen Imam Syafi’i radliyallahu ‘anh:

من تفقه من بطون الكتب ضيع الاحكام

“Barangsiapa belajar fiqih dari buku-buku (tanpa digurukan), maka ia telah menyia-nyiakan hukum-hukum agama.”

Ketiga, mematuhi segala perintah guru


Murid hendaknya adalah pribadi yang mentaati arahan gurunya. Sam’an wa tha’atan, mendengar dan mematuhi apa pun yang diarahkan gurunya. Ibarat pasien yang sakit, ia harus senantiasa mematuhi petunjuk dokternya. Berapa kali ia harus meminum obat dalam sehari, pola makan yang harus dijaga dan hal-hal lain yang diperintahkan oleh sang dokter. Demikian pula pelajar, bila ia ingin sembuh dari penyakit kebodohannya, ia harus menuruti resep pengajaran dari gurunya. Pasien yang susah diatur, banyak menentang dokternya, sulit bagi dia untuk sembuh.

Senada dengan pendapat KH Hasyim Asy’ari, dalam pandangan kaum shufi, posisi murid di hadapan gurunya, seperti jenazah di tangan orang yang memandikannya. Ia harus pasrah secara total, mau dimandikan dalam posisi bagaimanapun. Syekh Ibnu Hajar al-Haitami mengatakan:

يتعين عليه الاستمساك بهديه والدخول تحت جميع أوامره ونواهيه ورسومه حتى يصير كالميِّت بين يدي الغاسل ، يقلبه كيف شاء

“Seharusnya murid berpegangan kepada petunjuk gurunya, tunduk patuh atas segala perintah, larangan dan garis-garisnya, sehingga seperti mayit di hadapan orang yang memandikan, ia berhak dibolak-balik sesuka hati.” (Syekh Ibnu hajar al-Haitami, al-Fatawi al-Haditsiyyah, juz 1, hal. 56)

Keempat, memandang guru dengan pandangan memuliakan.


Inilah salah satu cara yang lebih mendekatkan untuk mendapat ilmu yang bermanfaat menurut pandangan KH. Hasyim Asy’ari. Pelajar wajib memandang gurunya dengan penuh takzim. Tidak diperbolehkan bagi pelajar memandang remeh gurunya, merasa ia lebih pandai dari pada gurunya. Santri hendaknya memilik itikad yang baik terhadap gurunya, menganggap bahwa gurunya berada pada derajat kemuliaan. Beliau mengutip statemen sebagian ulama salaf:

من لا يعتقد جلالة شيخه لايفلح

“Barangsiapa tidak meyakini keagungan gurunya, tidak akan bahagia.”

Tidak etis murid menyebut gurunya hanya dengan namanya, tanpa diberi gelar kehormatan. Atau memanggil gurunya dengan ‘kamu’, ‘anda’ atau panggilan-panggilan yang merendahkan. Setiap menyebut gurunya saat beliau tidak ada, sebutlah dengan sebutan yang layak dan baik. Jangan ragu untuk bilang “guruku” “kiaiku yang alim”, “ustadzku yang cerdas”, dan sebutan-sebutan yang sejenis. 

Kelima, tidak melupakan jasa-jasa guru.


Pelajar hendaknya mengenali hak gurunya, tidak melupakan jasanya, senantiasa mendoakannya, baik saat masih hidup atau setelah meninggal dunia. Juga perlu memuliakan kerabat, rekan dan orang-orang yang dicintai gurunya. Setelah gurunya wafat, sempatkan waktu untuk berziarah dan memintakan ampunan kepada Allah untuk sang guru di depan kuburnya. Dalam segala tingkah laku, metode pengajaran, amaliyyah dan hal-hal positif lainnya, hendaknya menirukan cara-cara yang ditempuh oleh gurunya. Demikianlah pelajar yang sesungguhnya menurut KH Hasyim Asy’ari, selalu memegang teguh prinsip gurunya.

Keenam, sabar menghadapi gurunya


Manusia tidak lepas dari luput dan salah, tidak terkecuali seorang guru. Sebagaimana manusia lainnya, tidak mungkin seorang guru bersih dari kesalahan. Terlebih saat banyak pikiran, terkadang emosi sulit dikendalikan. Maka dari itu, murid harus bisa memaklumi sikap gurunya yang terkadang membuat jengkel. Kendati gurunya melakukan kesalahan atau berlaku keras, hal tersebut tidak menghambat pelajar untuk terus ber-mulazamah (menimba ilmu) dan meyakini kemuliaan gurunya.

Ketujuh, meminta izin kepada guru saat memasuki majelisnya.


Hendaknya saat menghadiri majelisnya guru, pelajar terlebih dahulu permisi meminta izin, di mana pun berada, baik saat gurunya sendirian atau bersama orang lain. Kecuali dalam majelis umum yang disediakan untuk siapapun yang mau mengikuti, maka tidak perlu izin. Ketika guru mengetahui keberadaan murid dan tidak mengizinkannya untuk berada di sebuah majelis, maka sebaiknya murid langsung beranjak dan tidak perlu mengulangi untuk meminta izin.

Kedelapan, duduk bersama guru dengan penuh etika.


Saat menghadap gurunya, hendaknya dengan posisi yang sopan, semisal duduk berlutut di atas kedua lutut atau seperti duduk tasyahud (namun tidak perlu meletakan kedua tangannya di atas kedua paha), atau duduk bersila, dengan rendah diri, tenang dan khusyu’, tidak boleh menengok kanan kiri tanpa dlarurat, menghadap gurunya dengan keseluruhan tubuhnya, mendengar perkataan guru dengan seksama, memandangnya, mencermati arahannya sehingga guru tidak perlu mengulangi lagi penjelasannya. Tidak perlu menengok kanan-kiri atau arah atas tanpa ada hajat, terlebih saat guru membahas pelajar. Saat ada keramaian di tengah-tengah pelajaran, murid tak perlu belingsatan tak beraturan, dianjurkan tetap tenang.

Kesembilan, berbicara yang baik kepada guru.


Sebisa mungkin murid menghindari perkataan “kenapa?”, “saya tidak setuju”, “dari mana keterangannya” dan ucapan protes lainnya di hadapan guru. Bila maksudnya adalah untuk meminta penjelasan dari guru, maka hendaknya dengan tutur kata yang sopan dan pelan-pelan. Lebih baik lagi disampaikan di kesempatan yang lain dengan niatan meminta penjelasan, bukan bermaksud menguji atau menentang gurunya.

Bila penjelasan guru berbeda dengan tokoh yang lain atau literatur yang dibaca murid, tidak sopan pelajar membandingkannya di hadapan guru, misalkan “yang saya dengar anda menjelaskan demikian, sedangkan menurut Syekh ini demikian, menurut kitab ini demiian” “apa yang anda jelaskan tidak benar” dan perkataan yang semisalnya.

Bersambung......

Demikian 12 Adab Pelajar Kepada Guru Menurut KH Hasyim Asy'ari. Semoga dengan ini para memiliki sopan santun kepada gurunya sehingga ilmu yang dipelajari bermanfaat bagi keluarga, bangsa, dan Agama. Amin....

Sumber:
http://www.nu.or.id/post/read/98068/adab-adab-pelajar-kepada-guru-menurut-kh-hasyim-asyari-i
http://www.nu.or.id/post/read/98419/adab-adab-pelajar-kepada-guru-menurut-kh-hasyim-asyari-ii

11/01/2018

Perbedaan Simbol Bersama dan Simbol Kelompok

Ngeri melihat Negeri ini semakin kacau, saling memfitnah, merasa paling benar, dan tidak memahami perbedaan secara mendalam. Perpecahan ini berawal dari pembakaran bendera berlafaldz Tauhid. Sebagian kelompok mengeklaim bahwa itu adalah simbol bersama umat Islam seluruh dunia. Benarkah bendera yang dibakar itu adalah simbol bersama ataukah hanya simbol kelompok?
Bendera Berlafadz Tauhid
nu online

Untuk membedakannya, berikut penjelasan yang diambil dari situs NU Online Judul asli "Membedakan Simbol Bersama dan Simbol Kelompok" yang ditulis oleh Abdul Wahab Ahmad Wakil Katib PCNU Jember dan Peneliti di Aswaja Center Jember.

Ada sesuatu yang bisa dibilang sebagai simbol bersama yang diakui semua orang dalam sebuah komunitas besar atau bahkan dalam kemanusiaan. Kita sebagai umat Islam punya kesamaan yang menjadi identitas bersama, misalnya azan. Di manapun azan terdengar, berarti itu adalah tanda serang muslim sudah waktunya menunaikan shalat. Di manapun ada pelarangan atau pelecehan terhadap azan, maka seluruh muslim akan keberatan.

Ada juga hal yang menjadi milik seluruh manusia, misalkan perdamaian, kejujuran, keadilan dan sebagainya. Di manapun hal-hal itu dijunjung tinggi, maka akan diapresiasi oleh semua orang. Demikian sebaliknya bila hal-hal itu dinodai, maka akan dihakimi oleh siapapun.

Tapi ada juga hal umum yang kemudian berkembang menjadi identitas kelompok tertentu saja. Misalnya kain penutup rambut bagi wanita, dulunya orang dari berbagai agama banyak memakainya namun sekarang kain tersebut menjadi identitas seorang muslimah. Kita menyebutnya sebagai jilbab atau kerudung. Demikian juga kain panjang yang dipakai menutup tubuh lelaki dari pundak hingga ke bawah, yang hanya menutupi satu pundak saja dan membiarkan sebagian badan terlihat. Bila kain ini berwarna putih, maka menjadi simbol muslim yang sedang ihram, namun bila kuning justru menjadi simbol Biksu Hindu.

Ada juga yang asalnya simbol kelompok kemudian berubah umum menjadi milik bersama, misalnya peci hitam. Dulu peci hitam adalah simbol pakaian muslim, sekarang menjadi simbol pakaian nasional, tak harus Muslim untuk memakainya.

Hal yang sama berlaku dalam ajaran islam sendiri. Misalnya saja kasus taqiyyah. Sejatinya taqiyyah adalah keringanan yang disebutkan secara literal dalam al-Qur'an. Semua ulama mengakui kebolehan taqiyyah, namun ketika taqiyyah berkembang menjadi simbol Syi'ah, maka para ulama menjauhi kata ini bahkan tak membahasnya. Demikian juga pada sebutan "Imam" bagi Sayyidina Ali, meski seluruh kaum muslimin mengakui keimaman beliau, tapi kebanyakan ulama menghindari ucapan "Imam Ali" sebab ucapan ini berkembang menjadi simbol Syi'ah.

Sekarang, bagaimana dengan bendera hitam bertuliskan kalimat tauhid? Kasusnya sama saja, dulu di era Nabi itu menjadi milik bersama sebagai simbol pasukan muslimin, sekarang di Suriah berkembang jadi bendera (simbol) ISIS sedangkan di Indonesia jadi bendera (simbol) HTI. Kalau kebanyakan orang Indonesia melihat itu di pinggir jalan atau di mana pun di Indonesia, maka di benaknya juga akan terbayang HTI, bukan semata simbol bersama lagi sebagai bendera umat islam keseluruhan. Meskipun HTI selalu menegaskan bahwa bendera itu adalah bendera Rasulullah, tapi ketika itu mereka jadikan alat propaganda perjuangan mereka, maka wajar bila kemudian "bendera Rasul" tak hanya dimaknai sebagai bendera tauhid semata.

Sebagian kalangan bisa memprotes pengasosiasian bendera "bersama" ini pada kelompok tertentu saja dengan berpaku pada sejarah masa lalu, tapi pengasosian ini adalah fakta empiris saat ini yang tak dapat dipungkiri. Bila hal ini cukup sulit diterima dan tetap secara naif menegasikan keterkaitan simbol tersebut dengan HTI, maka silakan kibarkan bendera itu di Arab Saudi yang memiliki kalimat tauhid serupa. Tentu nanti akan terlihat bahwa itu bukan semata kalimat tauhid murni lagi, tapi kalimat tauhid yang telah berasosiasi pada kelompok tertentu.

Jadi, bila sekarang ada kasus oknum yang membakar bendera hitam bertuliskan kalimat tauhid itu, apakah berarti bisa dianggap dia melecehkan kalimat tauhid yang menjadi simbol sakral seluruh umat Islam? Tak sesederhana itu. Saya tentu tak mendukung bahkan menyesalkan aksi seperti itu dan apalagi direkam dan disebar segala sebab itu hanya menghasilkan polemik yang tak perlu. Namun, saya juga menyesalkan pihak-pihak yang menutup mata dari perubahan bendera sebagai simbol "bersama" ke simbol kelompok tertentu itu. Bila ditanya pelakunya, tentu mereka tak berniat melecehkan simbol kalimat tauhid sebab siapapun tahu bahwa ini bisa berkonsekuensi kemurtadan. Mereka pasti niatnya membakar simbol HTI yang memang berpotensi memecah belah bangsa.

Kasusnya bisa kita samakan dengan aksi Khalifah Utsman membakar mushaf sahabat. Hal itu tak bisa diartikan bahwa beliau sedang melecehkan firman Allah sebab itu berkonsekuensi kemurtadan. Dalam sejarah, hanya Khawarij yang punya pikiran picik seperti itu hingga mereka membantai Khalifah Utsman dengan kejinya. Sedangkan kenyataannya, Khalifah Utsman hanya membakar catatan pribadi para sahabat yang berpotensi memecah belah umat di kemudian hari. Motif atau niat ini akan menentukan cara kita "menghakimi" sesuatu.

Ingat, saya bukan mau membela pembakaran bendera tauhid, tapi mau mengajak agar kita objektif. Bedakan antara simbol bersama dan  simbol yang sudah berasosiasi pda golongan supaya tak berlebihan dalam berkomentar. Cukup Khawarij saja yang pikirannya sempit seperti itu.
Sumber: http://www.nu.or.id/post/read/97799/membedakan-simbol-bersama-dan-simbol-kelompok

Kenali Tanda Hati Sehat, Hati Sakit, dan Hati Mati

Mari kenali ciri-ciri hati yang sehat, hati sakit, dan hati yang telah mati. Ketiganya memiliki perbedaan yang mendalam namun tidak semua orang bisa membedakannya. Kadang semua tampak salah namun sebenarnya benar. Begitu pula sebaliknya, benar tetapi dianggap salah. Mari simak hikmah memahami tanda hati sehat, hati sakit, dan hati mati.
Kenali Tanda Hati Sehat, Hati Sakit, dan Hati Mati

Detak jarum jam terdengar sangat keras memenuhi kedua gendang telinga. Suara motor sayup-sayup terdengar dari kejauhan. Tiada kata terucap dari insan bernyawa. Semua terlelap menikmati anugerah tuhan yang Maha-kuasa. Mengistirahatkan badan setelah seharian mencari berkah dan rezeki di hamparan bumi-Nya. Inilah kondisi tengah malam yang sepertinya tinggal menunggu berapa menit saja menuju pagi.

Bergegas ambil air wudhu dan memakai sandal menuju tempat ibadah. Begitulah para guru telah mengajarkan agar lebih hati-hati dalam urusan najis. Karena suci dari najis merupakan salah satu dari syarat sahnya shalat. Saya perhatikan lantai dimana kami sekeluarga shalat terlihat bercak-bercak kotor karena air yang mengering. Dipikir-pikir bukankan baru saja mengambil air wudhu, seharusnya kondisi kaki justru lebih bersih. Kenapa kok mengotori lantai? Ternyata bukan air, kaki, atau sandalnya yang kotor, tapi justru lantai yang berdebu. Lantai tampak menjadi lebih kotor walaupun sebenarnya terkena air bersih.

Begitulah barangkali kondisi hati seseorang, terkadang semua yang terlihat, nampak sebagai sesuatu yang salah, walaupun sebenarnya adalah benar. Subjektivitas manusiapun terjadi akibat kondisi hati. Sebagaimana Amin Syukur dalam bukunya Terapi Hati, mengutip pendapatnya Imam al-Ghazali menjelaskan bahwa hati terdiri dari 3 macam:

Tanda Hati Yang Sehat


Pertama, hati yang sehat dan menyebabkan keselamatan. Hati yang sehat memiliki beberapa tanda, yaitu, imannya kokoh, ahli bersyukur, tidak serakah, kehidupan tenteram, khusyuk dalam beribdah, banyak berdzikir, kebaikan selalu dinamis, segera sadar jika melakukan kesalahan, suka bertobat dan sebagainya.

Tanda Hati Yang Sakit


Kedua, hati yang sakit. Hati yang sakit adalah hati yang masih memiliki keimanan, ada ibadah, ada pahala, namun ada pula noda-noda maksiat dan dosa. Tanda-tanda hati yang sakit antara lain: hati selalu gelisah jauh dari ketenangan, mudah marah, tidak pernah puas dengan apa yang dimiliki, susah menghargai orang lain, kehidupan tidak nyaman, mengalami penderitaan lahir batin, dan sebagainya.

Tanda Hati Yang Telah Mati


Ketiga, hati yang mati. Hati yang mati berarti hati yang telah mengeras dan membatu karena terlalu banyak kotoran akibat dosa-dosa yang diperbuat. Sebagaimana firman Allah:

وَمَا يُكَذِّبُ بِهِ إِلا كُلُّ مُعْتَدٍ أَثِيمٍ، إِذَا تُتْلَى عَلَيْهِ آيَاتُنَا قَالَ أَسَاطِيرُ الأوَّلِينَ، كَلا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Artinya: “Dan tidak ada yang mendustakan hari pembalasan itu melainkan Setiap orang yang melampaui batas lagi berdosa, yang apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata: "Itu adalah dongengan orang-orang yang dahulu", sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka. (QS Al-Muthaffifin [83]: 12-14)

Hati yang bersih dan sehat bisa saja menjadi sakit bahkan kotor dan menjadi mati disebabkan karena dosa. Sehingga ketika hati sudah mati tiada sesuatu pun yang indah dalam dirinya. Sebagaimana potongan hadits mengatakan “.....jika baik hati seseorang maka baik pula seluruh anggota badan...”.

Cara Mengobati Hati


Setidaknya ada 5 hal yang dapat mengobati hati, sebagaimana dijelaskan dalam kitab Kifayatul Atqiya karya Sayid Abu Bakr sebagai berikut:
  • Pertama, membaca Al-Qur’an dengan penghayatan arti dan maknanya. 
  • Kedua, membiasakan diri dalam kondisi tidak kenyang atau dengan banyak berpuasa. 
  • Ketiga, beribadah di waktu malam, baik dengan shalat, membaca Al-Qur’an, berdzikir dan sebagainya. 
  • Keempat, mendekatkan diri kepada Allah sedekat dekatnya di waktu sahur. 
  • Kelima, berkumpul dengan orang-orang yang shalaeh, yang dapat membimbing dan menjadi cermin kehidupan yang lebih baik.

Demikian Tanda Hati Sehat, Hati Sakit, dan Hati Mati dan cara mengobati hati. Semoga bermanfaat.
Sumber:http://www.nu.or.id/post/read/97334/tanda-hati-sehat-hati-sakit-dan-hati-mati

10/30/2018

Download Terjemah Kitab Fathul Qorib Lengkap

Terjemah Fathul Qorib - Banyak yang mencari terjemahan kitab fathul qorib versi pdf dan doc yang nantinya bisa dibuka melalui android ataupun komputer. Pada kesempatan ini kami kami ingin berbagi terjemah fathul qorib yang dapat langsung di download secara gratis. Dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi kita bisa mempelajari terjemah fathul qorib secara lengkap dan mudah.
Sampul kitab Fathul Qorib versi Arab Gundul

Imam Syafi'i pernah berkata ilmu itu ada dua, yang pertama adalah ilmu Fiqih untuk keabsahan menjalankan syari'at Agama dan yang kedua adalah ilmu kedokteran untuk kesehatan badan.

Salah satu kitab yang mengkaji ilmu Fiqih adalah Kitab Matan Taqrib karya Syaikh Abu Syuja', yang berisikan faidah-faidah dan hal-hal penting dalam ilmu Fiqih. Kitab ini sudah berusia sangat lama bahkan sudah ratusan tahun.

Kemudian salah satu kitab yang mendai syarah (mengomentari dan menjelaskan) Kitab Taqrib adalah Kitab Fathul Qorib karya Syaikh Ibnu Qosim Al-Ghazi. Kedua kitab ini sangat populer di kalangan pesantren yang dipelajari, dikaji, dan ditelaah oleh para santri dan ulama'.

Download Kitab Fathul Qorib


Tidak semua bisa membaca kitab kuning, arab gundul tanpa harakat. Agar mudah dipahami maka dibutuhkan terjemahannya. Melalui halaman ini kami akan berbagi kitab fathul qorib yang paling banyak di cari, yaitu:

  • Fathul Qorib terjemah bahasa Indonesia dilengkapi arab berharakat dan bisa di copy paste - Download
  • Terjemah bahasa Indonesia dilengkapi penjelasan tambahan yang diambil dari buku Jawaban Pelbagai Kemusykilan Kitab Fathul Qorib - Jilid 1 - Jilid 2
  • Fathul Qorib terjemah makna Jawa - Download
Seluruh link download di atas langsung kami arahkan ke sumbernya.

Daftar Isi Pembahasan Kitab Fathul Qorib


  • Muqaddimah (Pengantar)
    • Muqaddimah 1
    • Muqaddimah 2
  • Kitab Hukum Bersuci
    • Pasal Benda Najis dan Kulit yang Dapat Disamak
    • Pasal Wadah yang Haram dan Boleh Digunakan
    • Pasal Memakai Siwak
    • Pasal Fardhunya Wudhu
      • Sunnahnya Wudhu
    • Pasal Istinjak dan Adab Buang Air (Kecil dan Besar)
    • Pasal Yang Membatalkan Wudhu
    • Pasal Yang Mewajibkan Mandi Besar
    • Pasal Fardhunya Mandi Ada Tiga
    • Pasal Mandi Besar yang Disunnahahkan
    • Pasal Mengusap Khuf (Muzah)
    • Pasal Tayamum
    • Pasal Najis dan Cara Menghilangkan
    • Pasal Haid, Nifas, dan Istihadoh
  • Kitab Hukum Shalat
    • Syarat Orang yang Wajib Shalat
    • Syarat Sebelum Masuk Shalat
    • Rukun Shalat
      • Sunnah Sholat
    • Beda Laki-laki dan Perempuan dalam Shalat
    • 11 Pembatal Shalat
    • Jumlah Rakaat Shalat
    • Yang Tertinggal dalam Shalat
    • Waktu yang Makruh untuk Shalat
    • Shalat Berjamaah
    • Shalat Qashar dan Jamak
    • Shalat Jumat
    • Shalat Idul Fitri dan Idul Adha
    • Shalat Gerhana Matahari dan Bulan
    • Shalat Istisqa (Minta Hujan)
    • Bab Shalat Khauf (Saat Perang)
    • Pakaian Sutra dan Cincin Emas
    • Jenazah: Cara Memandikan, Mengkafani, Menyolati dan Memendamnya
  • Kitab Hukum Zakat
    • Awal Nisob Unta itu Lima Ekor
    • Awal Nisob Lembu itu 30 Ekor
    • Awal Nisob Kambing itu 40
    • Zakat Usaha Bersama
    • Zakat Emas
    • Zakat Perak
    • Zakat Pertanian Dan Buah-Buahan
    • Zakat Bisnis Perdagangan, Tambang Dan Harta Karun (Rikaz)
    • Zakat Fitrah
    • Delapan Golongan Penerima Zakat
  • Kitab Hukum Puasa
    • Pengertian Puasa
    • Syarat Wajib Puasa
    • Fardu atau Rukun Puasa
    • Yang Membatalkan Puasa
    • Kesunahan Puasa
    • Puasa Yang Diharamkan
    • Puasa Yang Makruh Tahrim
    • Yang Disunnahkan Saat Puasa
    • Bagi yang Tidak Puasa Ramadan
    • Hukum I'tikaf
  • Kitab Hukum Haji dan Umrah
    • Rukun Haji ada Empat
    • Rukun Umroh Ada Tiga
    • Kewajiban Saat Haji Ada Tiga
    • Sunnah Haji Ada Tujuh
    • Yang Haram Saat Ihram
    • Denda yang Wajib Saat Ihrom
    • Dam Ada Dua Jenis
  • Kitab Hukum Jual Beli
    • Riba
    • Khiyar (Pilihan)
    • Salam (Pesan Barang)
    • Gadai
    • Hajr (Larangan Bertransaksi)
    • Akad Shuluh (Perdamaian)
    • Hiwalah (Pengalihan Hutang)
    • Dhaman (Menjamin Hutang Orang lain)
    • Kafalah (Doman dengan Selain Harta)
    • Syirkah (Usaha Bersama)
    • Wakalah (Perwakilan)
    • Pengakuan (Iqrar)
    • Ariyah (Pinjam Meminjam)
    • Ghosab (Merampas Harta Orang lain)
    • Syuf'ah Usaha Bersama
    • Qiradh (Bisnis Bersama dengan Modal Salah Satu Pihak)
    • Musaqat (Bagi Hasil Tanaman)
    • Ijarah (Sewa)
    • Jualah (Sayembara Berhadiah)
    • Hukum Mukhabarah (Bagi Hasil Tanaman )
    • Muzara’ah
    • Ihyaul Mawat (Membuka Lahan)
    • Hukum Wakaf (Waqaf)
    • Hibah (Pemberian)
    • Hukum Luqotoh (Barang Temuan)
    • Hukum Laqit (Anak Terlantar)
    • Hukum Wadiah (Titipan)
  • Kitab Hukum Waris dan Wasiat
    • Waris Bagian Pasti dan Asobah
    • Wasiat
  • Kitab Hukum Nikah dan yang Terkait
    • Syarat Nikah
    • Wanita Mahram yang Haram Dinikah
    • Hukum Khuluk
    • Hukum Talak
    • Talak Tanjiz dan Talak Ta'liq
    • Hukum Rujuk
    • Pasal Hukum Ila'
    • Pasal Hukum Zhihar
    • Pasal Hukum Qadzaf dan Li'an
    • Pasal Hukum Iddah
    • Pasal Jenis Wanita Iddah dan Hukumnya
    • Istibrak (Iddah bagi Budak)
    • Hukum Radha (Kerabat Sesusuan)
    • Pasal Hukum Menafkahi Kerabat
    • Pasal Hukum Hadonah (Pengasuhan Anak)
  • Kitab Hukum Jinayat (Pidana)
    • Diyat (Denda Pidana Pembunuhan atau Penyerangan)
    • Qasamah (Tuduhan Pelaku Pembunuhan)
  • Kitab Hudud (Hukuman)
    • Hukum Qodzaf
    • Hukum Minum Alkohol (Khamar)
    • Hukum Potong Tangan Pencuri
    • Begal
    • Shiyal (Bela Diri dari serangan)
    • Hukum Pemberontak (Bughat)
    • Hukum Murtad
    • Hukum Tidak Shalat
  • Kitab Hukum Jihad
    • Harta Ghanimah (Harta Rampasan Perang)dan Harta Salab
    • Harta Fai'
    • Jizyah (Pajak Non Muslim)
  • Kitab Hukum Berburu, Menyembelih dan Makanan
    • Hewan Halal dan Haram
    • Kurban (Udhiyah)
    • Aqiqah
  • Kitab Hukum Lomba dan Memanah
  • Kitab Hukum Sumpah dan Nadzar
    • Nadzar Haram, Makruh, Mubah
  • Kitab Pengadilan dan Persaksian
    • Qismah (Membagi Hak)
    • Bayyinah (Kesaksian)
    • Syarat Menjadi Saksi
    • Hak Allah dan Manusia
  • Kitab Memerdekakan Budak
    • Budak Wala'
    • Budak Mudabbar
    • Budak Mukatab
    • Budak Ummu Walad
Demikian Download Terjemah Kitab Fathul Qorib Lengkap yang bisa kami bagikan. Mohon maaf apabila ada kesalahan, dan semoga bermanfaat.

10/25/2018

Saking Fanatiknya Sampai Salah Nyoblos Paslon

Menjelang pilkada dan pemilu rakyat berpesta demokrasi mendukung paslonnya masing-masing. Sebagai rakyat Indonesia yang bijaksana kita wajib memilih calon pemimpin. Diperbolehkan mendukung namun tidak boleh terlalu fanatik apalagi sampai membenarkan apa yang salah dan menyalahkan apa yang benar.
Saking Fanatiknya Sampai Salah Nyoblos Paslon

Perbedaan tidak harus jadi perpecahan. Namun, fakta di lapangan perbedaan kian menjadi dalih perpecahan. Dalam hal ini ada sebuah kisah lucu dampak dari terlalu fanatiknya pendukung kepada paslon kebanggaannya. Kisah ini diambil dari NU Online dan berikut kisahnya.

Dalam kondisi masih pagi buta, Deden dengan semangat membara pergi bergegas menuju tempat pemungutan suara (TPS) pemilihan gubernur dan wakil gubernur di sebuah provinsi untuk memberikan hak suaranya atau nyoblos.

Sedari masa-masa kampanye, Deden memang salah satu simpatisan partai tertentu. Saking fanatiknya, ia kerap mengunggulkan pasangan calon (paslon) yang didukungnya dan membenci salah satu paslon. Kebenciannya itu sering dipostingnya di akun media sosial miliknya.

Tiba di lokasi TPS yang tidak jauh dari tempat tinggalnya, Deden diikuti sang istri menunggu beberapa saat karena TPS belum dibuka. Setelah dibuka, tentu saja ia mendapat giliran paling awal karena sedari pagi buta sudah tiba di TPS.

Kertas suara diberikan panitia pemungutan suara kepada Deden dan istri. Mereka berdua membuka dan melebarkan kertas suara yang berisi daftar paslon kepada para saksi di TPS untuk memastikan kertas suara masih utuh.

Deden dan istri segera menuju bilik suara untuk mencoblos paslon pilihannya. Ternyata, rasa benci Deden terhadap paslon tertentu yang kerap diungkapkannya di media sosial tidak hilang ketika ia masuk ke bilik suara.

Walhasil, paku yang dipegangnya untuk memilih paslon yang ia dukung justru digunakan untuk mencoblos dengan rasa geram terhadap paslon yang ia tidak sukai untuk menunjukkan kebenciannya.

“Syukurlah, Mamah udah nyoblos calon yang kita dukung Pah,” ucap sang istri.

“Loh, berarti saya tadi salah nyoblos dong,” ujar Deden dalam hati sambil tersenyum kecut ke istrinya.

Ternyata, pemilu kali ini merupakan pengalaman pertama Deden yang tiap masa pemilu atau pilkada memilih cuek dan tidak berpartisipasi. (Ahmad)

Begitulah kisah si Deden yang salah coblos karena kebenciannya yang telah membabibuta. Semoga kisah ini menjadi pelajaran bagi kita semua, bahwa kebencian malah justru bisa membuat kita salah pilih. Demikian semoga bermanfaat.

Cara Suami Pandai Bersyukur dan Istri Yang Pandai Bersabar

Hidup berkeluarga memang tidak akan lepas dari cobaan dan ujian. Peran suami dan istri sangat terikat erat, keduanya harus saling menggenggam demi keutuhan rumah tangga. Seorang suami sebagai pemimpin harus pandai bersyukur dan sabar begitu pun seorang istri.

Cara Suami Pandai Bersyukur dan Istri Yang Pandai Bersabar

Berikut ada kisah lucu sepasang suami istri yang pandai bersyukur atas nikmat Allah dan bersabar atas ujian yang diberikan Allah kepada mereka. Kisah ini diambil dari situs NU Online.

Pengasuh Pondok Pesantren Al-Itqon, Gugen, Semarang KH Haris Shodaqoh berpesan agar senantiasa merawat sifat sabar dan syukur seperti para ulama terdahulu.

"Pahala dari sabar dan syukur itu tidak terukur," kata Kiai Haris.

Kiai Haris menceritakan sebuah kisah tentang percakapan pasangan suami istri. Sang suami memiliki wajah buruk rupa sedangkan istri mempunyai paras yang menawan.

Suami   : "Dek, kalau urusan masuk surga jelas aku lebih unggul darimu."

Istri       : "Kenapa bisa begitu ?"

Suami   : "Karena aku orang yang selalu bersyukur memiliki istri secantik dirimu, Dek."

Istri        : "Ah kamu salah, Mas. Kalau urusan surga aku lebih dulu, Mas," sanggah sang istri.

Suami    : "Lha kok bisa?" tanya si suami dengan penasaran.

Istri         : "Karena aku orang tersabar di dunia, Mas, punya suami yang wajahnya enggak karu-karuan." (Khozin Muhammad)

Cerita tersebut disampaikan KH Haris Shodaqoh saat berceramah pada Haul KH Abdurrahman bin Qosidil Haq dan keluarga pada di halaman Pondok Pesantren Futuhiyyah, Mranggen, Demak sabtu (25/8).

Sebagai sepasang suami istri memang sebaiknya sering-sering bercanda ria supaya hubungan semakin harmonis dan tidak membosankan. Hadapi segala permasalahan dengan kepala dingin dan sebisa mungkin ada canda tawa di dalamnya. Semoga bermanfaat.